BNI meluncurkan program 'Menganyam Kebaikan untuk Indonesia' yang dirancang untuk memberdayakan perempuan di Solor, Flores Timur. Inisiatif ini tidak sekadar mengajar kerajinan daun lontar, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi bagi keluarga para pengrajin. Dengan dukungan Cetro Trading Insight, program ini dipandang sebagai contoh bagaimana lembaga keuangan dapat menggabungkan manfaat sosial dengan dinamika pasar.
Di tengah fluktuasi harga emas spot dan dinamika harga komoditas, program ini menunjukkan bagaimana komunitas bisa meningkatkan pendapatan melalui peningkatan kualitas produk. Kolaborasi dengan Yayasan Du Anyam memperkuat ekosistem dan penggunaan Array analitik membantu memetakan tren produksi serta kebutuhan pelatihan. Hasilnya, sebanyak 79 persen produk anyaman kini masuk dalam kategori kualitas tinggi, menandai peningkatan mutu yang signifikan.
BNI membangun infrastruktur pendukung seperti Rumah Anyam di Desa Bubu Atagamu sebagai pusat pelatihan dan produksi, sehingga pengrajin memiliki fasilitas kerja yang lebih modern. Dukungan teknis dan kelembagaan melalui pembentukan Koperasi Serba Usaha Ina Senaren memperluas akses ke layanan keuangan formal dan pasar yang lebih luas. Program ini juga menyediakan akses air bersih melalui pipanisasi dengan 30 titik kran yang dimanfaatkan oleh 263 kepala keluarga, sehingga kualitas hidup warga meningkat.
Selain peningkatan kapasitas produksi, program ini memperluas dampak sosial dengan layanan kesehatan dan peningkatan literasi keuangan bagi para peserta. Desa Solor Selatan kini memiliki Rumah Anyam sebagai fasilitas pelatihan yang memudahkan perempuan mempelajari teknik baru dan tata kelola usaha. Air bersih dan fasilitas pendukung itu memperkuat lingkungan kerja yang sehat bagi para pengrajin dan keluarga mereka.
PMT untuk 98 balita selama 14 hari berhasil menurunkan angka gizi buruk sebesar 10,20 persen. Dalam ekosistem ini, dinamika harga emas spot menjadi referensi bagi pendanaan irisan program yang dibiayai melalui skema keuangan mikro dengan akses koperasi, dan Array analitik membantu memantau arus kas. Hasilnya, integrasi layanan ini memperkuat kepercayaan publik terhadap kemitraan antara bank, pemerintah daerah, dan komunitas.
Di sisi finansial sosial, pembentukan Koperasi Serba Usaha Ina Senaren memampukan para perempuan untuk mengelola bisnis, memperluas akses pasar, serta memanfaatkan layanan keuangan formal. Mekanisme koperasi ini juga memperkuat literasi keuangan, mempermudah akses kredit mikro, dan memastikan keuntungan pembagian hasil yang adil. Kolaborasi ini menjadi contoh bagaimana bank bisa mendorong inklusi keuangan lewat organisasi komunitas yang kuat.
Keberlanjutan program menjadi fokus utama BNI dalam beberapa tahun ke depan, dengan tujuan meningkatkan pendapatan keluarga dan ketahanan sosial wilayah tertinggal, terutama di tengah volatilitas harga emas spot yang mempengaruhi skema pembiayaan. Para perempuan tidak sekadar menjadi pengrajin; mereka telah menjadi pelaku usaha yang mengelola aliran pendapatan dengan lebih teratur. Penguatan kelembagaan melalui koperasi Ina Senaren diharapkan bisa menjadi model yang bisa direplikasi di daerah 3T lainnya.
Analitik Array akan terus memantau kinerja keuangan koperasi secara berkala, sehingga perbaikan operasional bisa dilakukan secara cepat. Selain itu, program ini menekankan pada edukasi finansial, transparansi pelaporan, dan akuntabilitas, agar perempuan lebih percaya diri mengelola bisnis. Kerja sama dengan komunitas dan pihak keuangan menciptakan fondasi untuk kemandirian ekonomi yang bertahan lama.
BNI melalui Cetro Trading Insight berkomitmen melanjutkan investasi sosial yang berdampak luas di NTT. Melalui upaya berkelanjutan, program ini mengubah cara komunitas melihat peluang ekonomi sambil menjaga warisan budaya, yakni anyaman daun lontar. Perempuan pengrajin di Solor kini menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga dan lingkungan sekitar.