BNP Paribas: Energi Memicu Risiko Stagflasi pada Negara Berkembang Meski Ketahanan Makro Tetap Kuat

trading sekarang

BNP Paribas menyampaikan bahwa negara-negara berkembang menghadapi kejutan harga energi yang berpotensi memicu stagnasi, namun secara umum ketahanan makro tidak lebih rapuh dibanding tahun 2022. Bank tersebut menyoroti toleransi terhadap depresiasi kurs yang terbatas, adanya skema penetapan harga yang sudah ada untuk meredam tekanan, serta cadangan devisa yang lebih kuat. Pernyataan ini menunjukkan bahwa dampak tidak serta merta bersifat negatif bagi semua negara. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.

Ketika harga hidrokarbon naik, laju pertumbuhan dan inflasi bagi negara pengimpor bersih cenderung terseret, sehingga beberapa pasar berpendapatan rendah dan negara perbatasan bisa menghadapi risiko solvabilitas dan likuiditas eksternal yang lebih besar. Meski demikian, BNP Paribas menekankan bahwa negara-negara tersebut tidak kehilangan daya tahan karena adanya ruang kebijakan dan dukungan eksternal yang tersedia.

Secara umum, dampak harga minyak pada inflasi tergantung pada proporsi energi dalam indeks harga, pergerakan nilai tukar terhadap dolar AS, dan adanya mekanisme perlindungan harga bagi konsumen atau produsen. Analisis ini menekankan bahwa dampak shock secara keseluruhan akan terlihat melalui dampaknya pada tingkat harga secara luas, terutama jika inflasi sudah tinggi atau ekonomi berada di fase lanjut siklus.

Postur kebijakan yang menahan lonjakan harga energi menjadi faktor penentu. BNP Paribas menyebut adanya tiga faktor moderating yang membantu mengurangi dampak pada negara berkembang dibandingkan skenario sebelumnya. Pertama, lonjakan harga hidrokarbon belum merembes ke harga komoditas pangan utama seperti gandum, jagung, kapas, dan beras.

Kedua, meski negara Asia mengalami gangguan pasokan, mereka memperoleh manfaat dari kemajuan kecerdasan buatan yang meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Ketiga, mekanisme perlindungan harga untuk konsumen maupun produsen tetap berfungsi untuk menahan gejolak harga.

Inflasi dipengaruhi seberapa besar bagian energi dalam indeks harga, serta fluktuasi kurs terhadap dolar AS. Skema perlindungan harga bagi konsumen atau produsen, melalui subsidi, biaya penyesuaian, atau mekanisme lain, turut mengurangi tekanan inflasi. Respons kebijakan juga ditentukan oleh status inflasi nasional dan siklus ekonomi yang sedang berlangsung.

Secara prinsip, risiko balance of payments akibat lonjakan harga energi pada negara berkembang dianggap rendah secara umum. Namun beberapa negara dapat merasakan tekanan eksternal yang lebih besar, terutama jika defisit eksternal membesar atau profil utang memburuk. Dalam konteks ini, kebijakan dukungan pendanaan menjadi kunci bagi kelanjutan akses pembiayaan.

Beberapa negara seperti Argentina, Mesir, Pakistan, dan Ukraina disebut membutuhkan dukungan dari lembaga keuangan internasional maupun bank-bank besar untuk melayani utang eksternal. Dalam skenario ini, dukungan eksternal dapat membantu menahan risiko likuiditas dan mendorong kelanjutan pembiayaan proyek prioritas. Ketahanan makro tetap penting, tetapi ketidakpastian harga energi menambah volatilitas bagi pasar negara berkembang.

Secara keseluruhan, BNP Paribas menegaskan bahwa meskipun ketahanan makro yang lebih luas tetap ada, dinamika harga energi tidak pernah bersifat nol-sum bagi semua negara. Pergerakan harga minyak dan gas dapat lebih menekan bagi negara pengimpor bersih, sementara negara eksportir mungkin tidak mendapatkan manfaat langsung dalam skema ini.

broker terbaik indonesia