
Menurut Ryan McKay, Senior Commodity Strategist TD Securities, meskipun jalur Hormuz dibuka sepenuhnya, kekuatan fundamenta minyak akan tetap ketat. Ia memperkirakan adanya kehilangan produksi dan penarikan persediaan yang signifikan antara Juni hingga November, menciptakan defisit pasar yang memuncak pada Juli sebelum perlahan mereda menuju akhir tahun. Cetro Trading Insight menyajikan gambaran ini untuk membantu pembaca memahami dinamika yang sedang terjadi.
Analisa menunjukkan bahwa bahkan dalam skenario paling optimis, jumlah produksi yang hilang dan perhitungan stok masih mengarah pada pengetatan lebih lanjut. Defisit di pasar minyak tetap menjadi risiko utama meskipun potensi peningkatan aliran melalui Hormuz. Insight ini menekankan bahwa fase pengetatan dapat berlanjut meski ada upaya mengurangi gangguan pasokan di wilayah kunci.
Laporan bulanan ini memberi pembaca kerangka pemantauan: faktor-faktor seperti laju produksi, perubahan persediaan, dan respons permintaan akan membentuk arah pasar. Rangkuman ini juga menggarisbawahi bahwa volatilitas dapat dipicu oleh berita politis atau pola perdagangan sementara. Pembaca disarankan mengikuti pembaruan secara berkala untuk menilai implikasi perdagangan.
Tambahan 1 miliar barel produksi yang hilang antara Juni hingga November dan penurunan 800 juta barel persediaan menunjukkan tekanan besar pada stok minyak. Kondisi ini menambah beban pada pasar karena volume yang hilang tidak sepenuhnya bisa diganti dalam periode singkat. Keadaan ini menambah risiko lonjakan harga di jangka pendek yang perlu dicermati investor.
Logistik tanker, waktu tempuh, dan keterlambatan dalam membawa produksi kembali online berarti pasar akan menegang di musim panas dengan laju yang lebih lambat jika terdapat kesepakatan dibandingkan dengan skenario saat ini. Kunci bagi pelaku pasar adalah memastikan aliran melalui jalur alternatif tetap berjalan dan tidak menimbulkan gangguan tambahan. Efisiensi pengiriman akan menjadi faktor penentu harga di banyak wilayah.
Selain itu, meskipun pembukaan Hormuz diharapkan mengurangi tekanan setelah Agustus, dampaknya bisa muncul secara bertahap dan kerusakannya mungkin sudah terjadi pada saat itu. Perubahan aliran bisa memicu respons inflasi jangka pendek di negara pengimpor. Investor perlu mempertimbangkan risiko kebijakan negara di wilayah tersebut sebagai bagian dari strategi.
Sejalan dengan dinamika pasokan, mulai September hingga November produksi di wilayah Timur Tengah diperkirakan meningkat lagi, sehingga defisit diperkirakan menurun secara signifikan. Proyeksi ini menunjukkan bahwa aliran minyak kembali ke level pra-konflik mendekati November, meskipun jalur utama tetap beroperasi. Perkembangan ini bisa menekan volatilitas di pertengahan hingga akhir tahun.
Aliran pasokan yang tetap melalui Hormuz akan terus berperan, meskipun sebagian volume masih menggunakan jalur bypass seperti Yanbu dan Fujairah. Kombinasi dari perbaikan pasokan dan permintaan yang beragam di berbagai pasar dapat menciptakan pola harga yang beraneka. Pembahasan ini menyoroti pentingnya memantau dinamika operasional di wilayah utama penghasil minyak.
Catatan risiko utama adalah negosiasi Iran yang masih berlanjut dan potensi konflik regional yang bisa memicu volatilitas tambahan meskipun ada pembukaan jalur utama. Sinyal-sinyal pasar bisa berubah jika negosiasi berubah arah atau terjadi eskalasi ketegangan. Investor sebaiknya menjaga kerangka risiko yang fleksibel dalam menghadapi berita terbaru.