BoE Pertahankan Bank Rate 3,75% di Maret di Tengah Ketidakpastian Inflasi Akibat Risiko Energi Iran

BoE Pertahankan Bank Rate 3,75% di Maret di Tengah Ketidakpastian Inflasi Akibat Risiko Energi Iran

trading sekarang

Menurut analisis Deutsche Bank yang dirilis oleh Sanjay Raja, BoE diperkirakan mempertahankan Bank Rate di 3,75% pada Maret. Kondisi ini muncul karena guncangan energi terkait Iran menambah risiko terhadap laju inflasi. Pasar cenderung menunda harapan pemotongan hingga ada perkembangan yang lebih jelas. Keputusan ini menegaskan bahwa kebijakan akan sangat tergantung pada evolusi harga energi dan dinamika pasar tenaga kerja.

Meski sempat diproyeksikan ada dua pemotongan suku bunga pada 2026, para analis menekankan bahwa jadwal tersebut sangat tergantung pada data inflasi inti serta respons pasar tenaga kerja. Rilis terbaru menunjukkan bahwa jalur pelonggaran bisa berubah jika tekanan harga terus bertahan. Bahkan, proyeksi jangka menengah tetap menilai Juni dan November sebagai dua potensi pemotongan, namun timingnya tetap sangat tidak pasti.

Para pembuat kebijakan tidak ingin terburu-buru mengubah kebijakan pada pertemuan 19 Maret. Ketidakpastian geopolitik telah meningkatkan risiko upside terhadap inflasi. Jika belum ada resolusi terhadap gangguan Iran, dampaknya terhadap perekonomian bisa nyata: produk domestik bruto bisa lebih rendah, pengangguran lebih tinggi, dan inflasi menetap di atas proyeksi Februari BoE.

Inti volatilitas datang dari kejutan energi terkait Iran. Banyak analis menilai bahwa jika ketegangan tersebut tidak segera mereda, tekanan harga akan tetap tinggi. Dalam skenario ini, pertumbuhan ekonomi bisa melambat dan angka pengangguran berpotensi melonjak, sementara inflasi bahkan bisa bertahan jauh di atas target BoE.

Mereka yang sebelumnya menilai pemotongan pada Maret kini melihat perubahan pandangan karena ketidakpastian inflasi menjadi sangat menonjol. Peningkatan probabilitas kenaikan suku bunga jangka pendek tampaknya tidak terjadi, karena bank sentral memilih menjaga Bank Rate di 3,75%. Analisis ini menekankan bahwa langkah pelonggaran akan menunggu konfirmasi dari data inflasi dan dinamika pasar energi.

Pandangan jangka panjang menunjukkan kemungkinan dua pemotongan pada 2026, namun jika kondisi energi tetap membebani harga, tren tersebut bisa molor atau bahkan berkurang satu potongan. Peninjauan kembali terhadap jalur kebijakan akan bergantung pada tanda-tanda penurunan inflasi inti dan penyelesaian konflik Iran. Risiko utama pada skenario ini adalah pengetatan lebih lanjut terhadap ekspektasi tingkat terminal MPC.

Koordinasi antara harga energi, inflasi, dan dinamika pasar tenaga kerja terus membentuk jalur kebijakan BoE. Pergerakan suku bunga mempengaruhi imbal hasil gilts dan nilai tukar sterling, sehingga para investor perlu memantau rilis CPI dan data tenaga kerja. Pandangan ini menekankan bahwa kebijakan bersifat data-dependent dan rentan terhadap perubahan eskalasi geopolitik.

Untuk investor, fokus utamanya adalah bagaimana sterling dan obligasi gilts merespons perubahan ekspektasi suku bunga BoE. Terlihat bahwa jika pasar melihat prospek pemotongan yang tertunda, imbal hasil gilts bisa cenderung naik, sementara GBP bisa menguat relatif terhadap mata uang lain. Semua evaluasi perlu disesuaikan dengan dinamika global dan risiko energi.

Kesimpulannya, analisis menyoroti bahwa risiko terhadap call kebijakan saat ini condong ke satu kali pemotongan yang lebih kecil atau bahkan tidak ada pemotongan pada sisa tahun ini jika tekanan energi berlanjut. Target imbal hasil dan jalur kebijakan bisa berubah seiring rilis CPI berikutnya dan perkembangan konflik Iran. Laporan ini disusun untuk Cetro Trading Insight, media yang berkomitmen menyajikan analisis pasar yang jelas dan akurat.

broker terbaik indonesia