Bank of Japan diperkirakan akan menahan suku bunga kebijakannya di 0,75% pada rapat berikutnya, dengan fokus pada dinamika pertumbuhan ekonomi, tren inflasi, dan dampak yen yang melemah. Risiko geopolitik dan kondisi keuangan global menjadi bagian dari pertimbangan utama. Bank sentral Jepang menilai keseimbangan antara dukungan pemulihan dan target inflasi sebagai prioritas utama saat ini.
Para analis menilai bahwa sikap BoJ akan lebih menekankan tenor jangka pendek. Mereka menyoroti alokasi kebijakan yang hati-hati untuk menjaga pijakan pemulihan tanpa mengorbankan stabilitas harga. Komentar internal menunjukkan kesiapan merespons perubahan pasar dengan kebijakan guna menjaga kepercayaan investor.
Secara umum, materi komunikasi BoJ menekankan pemantauan pertumbuhan, inflasi, dan risiko geopolitik seputar dinamika perdagangan regional. Para pelaku pasar menilai bahwa langkah mendatang akan mencerminkan keseimbangan antara tekanan dari yen yang lebih lemah dan kebutuhan untuk menjaga laju inflasi tetap pada jalurnya. Dengan demikian, ekspektasi pasar terhadap jalur kebijakan terlihat lebih disesuaikan dalam beberapa kuartal ke depan.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang JGB diawasi ketat oleh pasar sebagai indikator likuiditas dan prospek fiskal. Kementerian Keuangan menunjukkan fleksibilitas untuk menyesuaikan penerbitan obligasi berdasarkan tenor, mengurangi obligasi jangka panjang sambil meningkatkan penerbitan obligasi jangka pendek. Pergeseran tenor ini menandakan fokus kebijakan yang lebih responsif terhadap kondisi keuangan riil.
BoJ diperkirakan akan menilai dampak kebijakan terhadap pasar keuangan secara umum dengan menyeimbangkan antara tekanan pada hipotek, pinjaman konsumen, dan kredit korporasi. Pasar kredit yang lebih sehat akan mendukung pemulihan ekonomi meskipun risiko geopolitik meningkat. Bank-bank domestik juga melihat dampak dari perubahan tenor terhadap biaya pembiayaan rumah tangga dan operasi bisnis mereka.
Contoh nyata terlihat pada Januari ketika bank MEGA Jepang menaikkan suku bunga hipotek tetap menjadi kisaran antara 2,5% hingga 5%, menunjukkan respons pasar terhadap lingkungan suku bunga rendah. BoJ kemungkinan akan menganalisis potensi dampak dari perubahan ini terhadap ekonomi yang lebih luas sambil tetap berpegang pada target inflasi. Para analis menilai langkah ini sebagai bagian dari penyesuaian kebijakan yang lebih luas untuk menjaga stabilitas finansial jangka pendek.
Kondisi yen yang lebih lemah menjadi faktor penting dalam arah kebijakan BoJ, namun timbul kekhawatiran soal efek samping kenaikan yang terlalu cepat. Bank sentral mencoba menyeimbangkan antara mendukung pemulihan dan menjaga stabilitas harga tanpa memperlambat pertumbuhan. Banyak pihak memperingatkan bahwa peningkatan terlalu agresif bisa menghambat dinamika ekonomi.
Sambil memantau kondisi keuangan, BoJ diperkirakan akan menilai bagaimana perubahan dalam biaya pinjaman memengaruhi konsumsi, investasi, dan momentum inflasi. Gejolak finansial global juga menjadi faktor yang dipertimbangkan untuk menjaga kestabilan keuangan domestik. Para pejabat akan mengeluarkan panduan jika diperlukan untuk mengelola risiko terhadap pertumbuhan.
Proyeksi inflasi diperkirakan mereda cukup signifikan pada kuartal pertama 2026, yang memberi ruang bagi BoJ untuk mempertahankan sikap saat ini. Ekspektasi ini sejalan dengan rencana moderasi laju kenaikan suku bunga dan fokus pada penyesuaian kebijakan secara bertahap. Investor bersiap menghadapi satu atau dua kuartal transisi sebelum pelonggaran lebih lanjut dapat dilakukan jika diperlukan.