Bank of Japan mempertahankan target suku bunga pada 0,75 persen dalam rapat dengan suara 6-3. Keputusan tersebut selaras dengan ekspektasi pasar meskipun ada tiga anggota dewan yang mendorong kenaikan 25 basis poin. Langkah ini mencerminkan sikap berhati-hati otoritas dalam menghadapi tekanan inflasi dan tantangan pertumbuhan.
BoJ juga memangkas proyeksi pertumbuhan GDP FY26 dan menaikkan proyeksi inflasi inti. Perubahan ini mencerminkan dampak kenaikan harga minyak akibat gejolak di Timur Tengah terhadap dinamika ekonomi Jepang. Kebijakan ini menampilkan upaya menjaga keseimbangan antara pendalaman kapasitas produksi dan risiko inflasi.
Gubernur BoJ, Ueda, menekankan bahwa risiko upside pada prospek harga tetap ada sementara risiko downside pada pertumbuhan juga terlihat. Pasar menilai bahwa BoJ ingin menjaga opsi kebijakan tetap terbuka untuk pertemuan mendatang, sambil menjaga fleksibilitas jika kondisi berubah.
Hasil voting 6-3 meningkatkan ekspektasi bahwa pertemuan Juni mungkin membawa langkah kebijakan lebih lanjut, meskipun pernyataan resmi tidak terlalu menegaskan arah yang pasti. Pasar fokus pada bagaimana BoJ akan menyesuaikan jalurnya dengan data ekonomi dan tekanan global, sehingga volatilitas pasangan mata uang terkait yen meningkat.
OIS markets memperkirakan sekitar 17 basis poin untuk Juni, menandai opini bahwa BoJ bisa mengejar jalur normalisasi kebijakan yang tertunda. Sementara itu, pejabat menekankan bahwa kemajuan akan bergantung pada data yang masuk, sehingga opsi kebijakan tetap terbuka di tengah dinamika geopolitik global.
Ketegangan di Hormuz menambah ketidakpastian kebijakan karena potensi dampaknya terhadap permintaan Jepang dan kondisi finansial global. Pelaku pasar menimbang antara perlambatan permintaan domestik dan kebutuhan untuk menjaga stabilitas finansial saat risiko geopolitik meningkat.
Dinamika kebijakan BoJ berpotensi memicu pergerakan USDJPY. Jika kebijakan tetap netral tetapi data ekonomi Jepang membaik, yen berpotensi menguat terhadap dolar. Namun faktor minyak dan risiko geopolitik dapat menahan tren tersebut dan menambah volatilitas jangka pendek.
Jika Juni benar ada kenaikan suku bunga, yen biasanya mendapat dorongan karena pengetatan kebijakan, meskipun efeknya bergantung pada data ekonomi global. Pasar akan fokus pada bagaimana inflasi Jepang dan dinamika permintaan domestik berinteraksi dengan harga energi di pasar internasional.
Rangkuman risiko melibatkan ketahanan pertumbuhan Jepang terhadap tekanan inflasi, dinamika minyak global, serta kepresisian langkah BoJ ke depan. Cetro Trading Insight akan memantau komentar pejabat, rilis data, dan pergerakan pasar untuk memberikan panduan yang relevan bagi pembaca terkait peluang dan risiko di pasar FX.