Tim ekonom UOB, Enrico Tanuwidjaja dan Sathit Talaengsatya, memperkirakan Bank of Thailand akan menjaga suku bunga kebijakan pada 1,00% setidaknya hingga kuartal pertama 2027. Prospek ini didorong oleh fokus BoT pada efek second-round dan ekspektasi inflasi yang tetap terkontrol meski ada lonjakan harga minyak. Analisis mereka menegaskan bahwa perubahan kebijakan lebih banyak dipicu oleh bagaimana tekanan energi mempengaruhi harga transportasi, makanan, dan layanan di masa mendatang.
Menurut laporan tersebut, fokus BoT bukan sekadar lonjakan inflasi pertama, melainkan potensi penyebaran laju inflasi ke transportasi, makanan, upah, dan ekspektasi jangka panjang. Mereka menilai bahwa sinyal pertama inflasi bisa mereda jika variabel tersebut tidak menyebar lebih luas. Bank sentral juga dinilai akan menilai dampak kebijakan terhadap ekspektasi inflasi tanpa mendorong defisit fiskal yang berlebihan.
Dalam kerangka kebijakan, kombinasi yang tepat adalah kebijakan moneter yang sabar dengan dukungan fiskal yang terarah dan bersifat sementara. BoT dipandang lebih fokus pada menjaga stabilitas harga sambil menjaga jalur fiskal tetap jelas. Cetro Trading Insight menilai langkah ini akan menjaga kepercayaan pasar sambil menyalurkan bantuan bagi kelompok rentan dan pengguna transportasi tanpa subsidi luas yang sulit diawasi.
Para analis menekankan bahwa fiskal perlu disalurkan secara terarah dan temporer, bukannya memberikan subsidi luas yang sulit dibatasi. Dukungan terhadap rumah tangga rentan, transportasi publik, dan pengguna sensitif dianggap lebih efisien dan transparan. Kebijakan fiskal semacam ini bertujuan menjaga keseimbangan fiskal sambil mendorong stabilitas ekonomi.
Pembuat kebijakan menilai bahwa fokus kebijakan fiskal pada transportasi publik dan program perlindungan pengguna dapat menahan tekanan biaya hidup tanpa meningkatkan defisit secara berkelanjutan. Pemerintah diharapkan melaksanakan paket bantuan yang akuntabel dan mudah diawasi agar kepercayaan investor tetap terjaga. Kondisi ini sejalan dengan pendekatan yang lebih transparan dibandingkan subsidi luas yang sulit direkayasa.
Analisis Cetro Trading Insight menunjukkan bahwa strategi fiskal yang terarah memperkuat daya tahan ekonomi jangka menengah. Meskipun harga minyak mendorong lonjakan inflasi, dukungan fiskal yang tepat sasaran bisa menenangkan volatilitas harga sambil menjaga pertumbuhan ekonomi negara. Kebijakan tersebut juga diharapkan meningkatkan kepercayaan korporasi dan konsumen terhadap prospek Thailand.
Secara pasar, kebijakan BoT yang berhati-hati berpotensi mendukung mata uang lokal jika inflasi tetap terkendali. Investor perlu memantau ekspektasi inflasi dan bagaimana BoT menimbang arah kebijakannya ke depan. Pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Thailand juga menjadi indikator kunci bagi peluang jangka menengah.
Secara fundamental, pendekatan yang menekankan stabilitas harga dan dukungan fiskal terarah bisa menahan tekanan pada pasar saham dan obligasi terkait ekonomi Thailand. Pelaku pasar global perlu menyisir peluang di aset regional untuk menangkap sinyal yang berasal dari perubahan kebijakan BoT. Risiko konflik di sektor energi dan kebijakan internasional bisa mempengaruhi arah aliran modal.
Sinyal perdagangan dalam konteks ini bersifat netral karena lonjakan inflasi terlihat sebagai kejutan sesaat dan fokus kebijakan lebih pada panduan ke depan. Cetro Trading Insight menegaskan bahwa risiko-imbangan ideal bagi instrumen terkait Thailand berada di kisaran 1:1,5 untuk skenario dukungan kebijakan yang lebih lanjut. Investor disarankan menghindari ekspektasi ambisius dan menerapkan manajemen risiko yang ketat.