Laporan Societe Generale Commodity Compass Analytics (CCA) yang dipimpin Michael Haigh, Ben Hoff, dan Jeremy Sellem menyoroti bahwa Dated Brent di sekitar 141 dolar per barrel mencerminkan keketatan fisik yang sangat parah karena aliran melalui Selat Hormuz tetap terganggu. Kondisi ini menambah tekanan pada volatilitas pasar energi dan menempatkan Brent sebagai indikator utama untuk risiko pasokan. Untuk pembaca awam, hal ini berarti pasokan minyak mentah dunia lebih rapuh daripada yang terlihat dari laporan stok saja, sehingga perubahan geopolitik bisa memicu pergerakan harga yang signifikan.
CCA mempertimbangkan skenario di mana otoritas mengenakan tol bagi kapal yang melintas Selat Hormuz, membahas bagaimana biaya tambahan itu bisa mempengaruhi logistik minyak. Analisis menunjukkan bahwa rata-rata biaya per kapal bisa signifikan, sehingga dampaknya teralokasi pada harga di sepanjang rantai pasokan. Hal ini menambah ketidakpastian pasar karena untuk menjaga pasokan, para pelaku industri bisa menimbang stok, produksi, dan rencana impor sebagai reaksi terhadap perubahan biaya.
CCA memetakan tiga jalur harga dalam skenario mereka dan memberikan gambaran umum mengenai kisaran harga Brent. Mereka menilai bahwa normalisasi persediaan diperkirakan terjadi secara bertahap hingga menjelang akhir 2026. Laporan ini, disusun oleh tim Cetro Trading Insight, menekankan bahwa dinamika geopolitik dan ketatnya pasokan tetap menjadi faktor penggerak utama harga minyak.
Pertama, skenario A mengeksplorasi dampak jika otoritas menerapkan tol pada kapal yang melintasi Selat Hormuz, termasuk ekonomi biaya dan potensi dampaknya pada konflik di masa depan. Kami memperkirakan sekitar 21.900 transit kapal tanker akan terpengaruh, dengan biaya rata-rata per kapal sekitar 520.000 dolar, setara sekitar 0,26 dolar per bbl. Saldo antara biaya tambahan dan dinamika pasokan akan menentukan arah harga minyak di jangka pendek hingga menengah.
Kedua, skenario B berfokus pada konflik itu sendiri, dengan eskalasi terkendali dan resolusi relatif cepat. Dalam skenario ini, harga minyak cenderung naik lebih tinggi karena permintaan menyesuaikan diri terhadap harga yang lebih tinggi dan kebijakan konsumsi yang mendorong penghematan. Saat kondisinya akhirnya normal, negara akan membangun inventori lebih besar untuk keamanan pasokan, memberikan dukungan harga berkelanjutan. Harga rata-rata diperkirakan sekitar $125/bbl di April.
Ketiga, skenario C melibatkan eskalasi intensifikasi tanpa kendali, kemungkinan keterlibatan pasukan AS dan perluasan perang regional. Dalam kondisi tersebut, gangguan pasar minyak meningkat tajam, dengan Bab el-Mandeb berpotensi ditutup jangka pendek. Harga diperkirakan melonjak secara signifikan, rata-rata sekitar $150/bbl dan bisa melebihi $200/bbl, meskipun stok cadangan menawarkan penyangga sebagian.
Implikasi utama bagi pasar adalah volatilitas yang meningkat untuk produsen, konsumen, dan pembeli kontrak berjangka, dengan aliran minyak global yang sangat sensitif terhadap ketegangan geopolitik. Produsen nasional dapat menyesuaikan produksi dan investasi untuk menjaga keseimbangan pasokan, sementara konsumen menghadapi biaya energi yang lebih tinggi dan kepastian pasokan. Para investor perlu memperhatikan sinyal-sinyal geopolitik serta perubahan stok global yang bisa menahan atau mendorong pergerakan Brent.
Normalisasi inventori diperkirakan berjalan lambat hingga akhir 2026, dengan banyak negara membangun cadangan sebagai langkah keamanan pasokan. Kebijakan konsumsi atau langkah regulasi bisa menahan permintaan dalam jangka pendek. Meskipun ada peningkatan stok, pertumbuhan permintaan global mungkin tidak pulih secepat pasokan, sehingga tekanan harga bisa tetap ada dalam kisaran tertentu.
Untuk pembaca awam dan pelaku pasar, penting dicatat bahwa laporan ini bersifat fundamental dan tidak memberikan sinyal teknikal spesifik untuk masuk- keluar. Karena itu, tidak ada level pembuka, target keuntungan, atau batas kerugian yang dapat direkomendasikan dari sudut pandang perdagangan saat ini. Kami di Cetro Trading Insight menilai sinyal trading pada artikel ini adalah 'no' karena kurangnya data level harga konkrit serta instrumen yang konkret.