Menurut tim RaboResearch Global Economics & Markets, dinamika harga Brent menunjukkan adanya keketatan pasar meskipun ada gencatan senjata yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran. Laporan ini, yang kami sampaikan dalam rangka analisa pasar oleh Cetro Trading Insight, menyoroti bagaimana tekanan geopolitik tetap menjadi faktor utama penggerak harga minyak dunia. Sentimen ini memberikan arah bagi investor yang mengikuti pergerakan harga minyak mentah secara ritel maupun institusional.
Di sisi harga, Brent sedikit menguat sekitar dua dolar lalu berada di kisaran mendekati US$97 per barel. Pergerakan ini muncul meski terdapat koreksi di beberapa indeks saham Eropa, sedangkan pasar saham AS menunjukkan penyesuaian yang beragam. Kaitan antara reli harga minyak dan dinamika pasar saham menegaskan bahwa sentimen risiko global tetap menjadi penggerak utama dalam beberapa minggu ke depan.
Faktor-faktor pendukung lain yang disebutkan dalam laporan termasuk kendali Iran atas jalur pelayaran serta kekhawatiran terkait kelanjutan gangguan pasokan. Dengan demikian, normalisasi arus minyak di wilayah tersebut tidak akan terjadi secara cepat, meskipun ada upaya diplomatik. Informasi ini menjadi landasan bagi pembaca kami untuk memahami bagaimana risiko geopolitik berperan dalam pembentukan harga minyak.
Segmen kedua membahas bagaimana Selat Hormuz tetap menjadi titik fokus pasokan minyak global. Lalu lintas kapal di jalur ini masih menghadapi gangguan signifikan, dengan hanya sejumlah kapal yang terkait Iran dan/atau China yang melintas. Ketidakpastian operasional di area kunci ini mengurangi kapasitas normalisasi aliran minyak ke Asia dan Eropa.
Rincian lebih lanjut menunjukkan bahwa Iran mengindikasikan pembatasan sekitar 15 kapal per hari yang diizinkan lewat bawah perjanjian gencatan senjata. Angka ini jelas tidak sejalan dengan estimasi sebelumnya, yakni sekitar 800–900 kapal yang menunggu untuk keluar dari wilayah tersebut. Ketatnya kendali ini menambah risiko bahwa arus kapal yang keluar tidak secara otomatis memicu arus masuk volume baru dalam waktu dekat.
Penegasan tentang rute-rute pelayaran yang dianggap "aman" oleh otoritas Iran memperkuat pesan bahwa kendali atas jalur tersebut akan tetap menjadi faktor volatilitas. Bahkan saat kapal dapat meninggalkan Selat Hormuz untuk mengantar muatan, pemilik kapal mungkin tetap waspada untuk kembali menggunakan jalur tersebut karena risiko berkelanjutan yang mungkin muncul kapan saja.
Dari sudut pandang investor dan trader, kondisi ini menegaskan bahwa pasar minyak tetap rapuh di tengah ketidakpastian geopolitik. Perubahan kecil dalam dinamika jalur pasokan dapat memicu pergerakan harga yang cukup signifikan, terutama bagi Brent yang sensitif terhadap berita tentang Hormuz. Pelaku pasar perlu memperhitungkan volatilitas yang lebih tinggi di jangka pendek.
Harga Brent diperkirakan tetap sangat responsif terhadap perkembangan di sekitar Hormuz dan pola aliran kapal. Risiko geopolitik bisa memperpanjang tren bullish atau memperpanjang periode fluktuasi harga, tergantung pada perkembangan diplomatik. Pelaku pasar disarankan mengelola eksposur risiko dengan cermat dan menggunakan analisis fundamental sebagai fondasi keputusan perdagangan.
Strategi perdagangan yang disarankan mengikuti analisa fundamental dengan pendekatan risk/reward yang jelas. Berdasarkan konteks artikel, posisi long pada Brent dengan level pembukaan sekitar US$97 dapat ditempatkan dengan target sekitar US$105 dan stop loss di US$92. Rasio risiko/imbalan yang diharapkan sekitar 1.6:1 sesuai perhitungan tersebut, sesuai prinsip konsisten Buy > Tp > Sl jika sinyal dipakai. Cetro Trading Insight menekankan pentingnya monitor tetap terhadap pernyataan otoritas terkait Hormuz dan pembaruan operasional pelayaran sebagai bagian dari manajemen posisi.