
Menurut laporan dari BNY Mellon yang dirujuk Geoff Yu, Amerika Serikat dan Iran telah sepakat menghentikan serangan dan melanjutkan pembicaraan terkait Selat Hormuz serta isu terkait lainnya. Kesepakatan ini meningkatkan peluang jalur pelayaran untuk berjalan lebih bebas dan mengurangi gangguan pasokan minyak secara langsung. Pasar merespons langkah tersebut dengan kehati-hatian; Brent naik sekitar 0,9% menjadi 72,64 dolar AS per barel, sementara WTI dan minyak Oman juga mengikuti arah yang lebih positif.
Normalisasi pasar energi dipandang dapat mengurangi sensitivitas inflasi terhadap risiko geopolitis di wilayah Teluk. Namun analis memperingatkan volatilitas tetap ada karena dinamika geopolitik bisa berubah dengan cepat. Ketentuan operasional di Hormuz masih berada dalam kerangka negosiasi yang dinamis, sehingga dampak jangka pendek bisa berbeda-beda di setiap sesi perdagangan.
Pembicaraan teknis mengenai memorandum kesepahaman (MOU) yang disepakati bulan ini akan berlanjut, meskipun kedua pihak memilih menahan diri untuk sementara waktu. Serangan Iran terhadap kapal kontainer yang memicu respons AS menandai awal konfrontasi yang dipicu sengketa energi. Sekarang, risiko langsung terhadap pasokan cenderung menurun, meskipun ketegangan tetap menjadi faktor volatilitas pasar.
Sentimen pasar minyak dipicu oleh harapan bahwa pasokan akan tetap relatif terjaga meskipun permintaan global tetap kuat. Brent berada di dekat level 72–73 dolar per barel dan telah menunjukkan kenaikan moderat karena kekhawatiran terhadap gangguan pasokan mereda. Investor juga mencermati pergerakan WTI yang mengikuti arah Brent pada hari-hari terakhir.
Di sisi lain, analisis pasar menyoroti bahwa gelombang pembatasan pasokan di sektor energi bisa datang dari dinamika investasi besar-besaran di bidang teknologi, khususnya siklus investasi kecerdasan buatan. Proyek besar Korea Selatan untuk semikonduktor menunjukkan skala komitmen modal yang diperlukan untuk menjaga kelangsungan rantai pasokan global. Kondisi ini bisa memperparah tekanan inflasi jika biaya produksi energi tetap tinggi dalam jangka panjang.
Kebijakan moneter global tetap menjadi faktor utama bagi arah pasar. Forum Sintra menjadi ajang bagi para pemimpin bank sentral untuk menegaskan tekad mereka menjaga inflasi tetap terkendali. Pasar memperkirakan bahwa respons kebijakan akan tetap tegas meski ada beberapa sinyal pembatasan, sehingga volatilitas harga energi bisa berlanjut dalam waktu dekat.