Brent naik ke tertinggi tiga minggu didorong Hormuz tertutup dan negosiasi AS-Iran mandek

Signal BR/ENTBUY
Open109.310
TP112.310
SL107.310
trading sekarang

Analisis Deutsche Bank menunjukkan Brent berada pada level tertinggi dalam tiga minggu karena Selat Hormuz tetap ditutup secara efektif dan pembicaraan damai AS-Iran mengalami kemunduran. Ketidakpastian pasokan dari wilayah kunci membuat pasar lebih sensitif terhadap berita diplomatik. Dampaknya, harga minyak cenderung lebih bergejolak di tengah risiko geopolitik yang berkelanjutan.

Harga Brent berada di atas $100 per barel dengan kenaikan berlanjut sepanjang kurva futures. Pasar mulai memasukkan asumsi bahwa kejutan inflasi yang dipicu minyak bisa bertahan lebih lama dari perkiraan awal. Kondisi ini mendorong investor untuk mencari perlindungan terhadap volatilitas energi yang lebih tinggi.

Seiring berita tanpa kemajuan nyata, Brent menutup sesi minggu ini naik 2,75% ke $108.23 per barel, level tertinggi sejak gencatan senjata dua minggu di awal bulan. Pergerakan di kurva enam bulan Brent juga terangkat, mencapai sekitar $88.01 per barel, menandakan kekuatan pasar untuk jangka menengah. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran terkait tekanan inflasi pada harga barang konsumsi.

Brent curve menunjukkan kekuatan berkelanjutan meskipun tidak ada progres resolutif dalam negosiasi. Hal ini tercermin dari ritme naik pada seluruh kurva futures yang mengisyaratkan ekspektasi kenaikan harga minyak di masa mendatang. Para analis menilai bahwa tekanan permintaan-suplai tetap mendominasi pergerakan harga utama.

Laporan Axios pada akhir pekan mengindikasikan Iran telah menawarkan proposal baru untuk membuka Selat Hormuz, sebuah faktor yang berpotensi mengubah aliran minyak jika disetujui. Meski berita tersebut menciptakan harapan, tidak ada konsensus atau kemajuan konkret yang terlihat dalam waktu dekat. Pasar tetap berhati-hati karena resolusi masih jauh dari kenyataan.

Dengan tidak adanya kemajuan berarti, kenaikan harga berlanjut menuju penutupan sesi dengan Brent naik lagi, mencapai $109.31 per barel secara intraday. Rangkaian data menunjukkan sentimen bullish menguat di seluruh horizon kontrak, termasuk 6 bulan Brent futures yang mencapai sekitar $88.01 per barel. Pergerakan ini menandakan kehendak pasar untuk mempertahankan momentum meskipun ketidakpastian geopolitik tetap tinggi.

Lonjakan harga minyak memperkuat kekhawatiran inflasi global, dengan minyak menjadi salah satu pendorong utama tekanan biaya hidup. Investor menilai bahwa kejutan inflasi terkait energi bisa berkelanjutan lebih lama dari perkiraan, sehingga kebijakan moneter dan fiskal mungkin harus menyesuaikan langkahnya. Ketika pasokan tetap terbatas, risiko bagi pertumbuhan ekonomi global juga meningkat.

Brent telah berada di atas $100 per barel hampir seminggu, menandai era harga energi yang lebih volatil dan lebih tinggi dari level historis. Perhatian pasar terfokus pada bagaimana dinamika geopolitik mempengaruhi keputusan perusahaan dan konsumen. Analisis teknikal menunjukkan peluang trading yang menarik bagi mereka yang siap menanggung volatilitas risiko.

Secara keseluruhan, evolusi pasar minyak saat ini akan sangat bergantung pada kemajuan diplomatik di wilayah bergejolak dan respons kebijakan negara produsen utama. Meskipun sinyal teknikal menunjukkan peluang beli bagi investor yang mengambil posisi di sekitar harga saat ini, risiko geopolitik tetap tinggi. Pelaku pasar disarankan memperhatikan rilis berita terkait Hormuz dan negosiasi regional untuk menilai arah harga kedepannya.

broker terbaik indonesia