
Para analis ING Warren Patterson dan Ewa Manthey menilai Brent telah mundur di bawah $90 per barel karena harapan atas de‑eskalasi antara AS dan Iran mencoba menyeimbangkan risiko pasokan yang meningkat. Laporan mengenai potensi gencatan senjata 10 hari dan perbedaan pendapat besar antara kedua negara menunjukkan dinamika politik yang bisa memengaruhi aliran minyak. Meskipun demikian, pasar juga tetap waspada terhadap seberapa cepat langkah diplomatik itu bisa meredakan ketegangan di wilayah berisiko tersebut.
Harga minyak sempat ditutup lebih tinggi kemarin sebelum mundur dari puncak sesi, dan posisi Brent kembali di bawah level kunci. Upaya mediator untuk mengembalikan Memorandum of Understanding ke jalurnya menandai perkembangan positif, meski tugas besar tetap ada. Pasar tetap rentan terhadap faktor geopolitik dan perubahan dalam irisan antara permintaan global dan pasokan global, tergantung perkembangan berikutnya.
Jika langkah-langkah de‑eskalasi akhirnya terealisasi, sentimen pasar bisa membaik dan tekanan turun pada volatilitas bisa terlihat. Namun para analis menekankan bahwa proses diplomatik memerlukan waktu dan bukti nyata di lapangan untuk memperlihatkan dampak pada aliran minyak. Dengan demikian, investor akan terus memantau pernyataan resmi serta perkembangan regional untuk menilai arah harga Brent dalam jangka pendek.
Selain risiko politik, pasar juga dihadapkan pada ancaman blokade pantai yang dideklarasikan Houthi di Laut Merah. Ancaman ini bisa mengganggu arus ekspor minyak Saudi melalui Bab el-Mandeb, meningkatkan ketidakpastian rantai pasokan global. Pasokan minyak melalui rute utama ke Asia bisa terhambat jika blokade dianggap efektif.
Seiring meningkatnya risiko, negara produsen seperti Saudi Arabia meningkatkan ekspor dari Yanbu, menjadi sekitar 4,6 juta barel per hari pada Juni, naik dari sekitar 1,3 juta pada awal tahun. Namun efektivitas blokade itu masih diperdebatkan karena pelayaran bisa mencari jalur alternatif atau menanggung biaya lebih tinggi. Pasar juga menilai bahwa asuransi perjalanan dan waktu pelayaran akan meningkat jika Bab el-Mandeb berisiko.
Situasi ini menambah tekanan pada harga, meskipun belum ada konfirmasi bahwa blokade bakal mengganggu aliran minyak secara nyata secara luas. Investor menimbang kemungkinan gangguan nyata vs ketentuan operasional militer dan respons pasar. Secara umum, scenario ini meningkatkan volatilitas dan memaksa pelaku pasar untuk mengkaji kembali ekspektasi produksi dan harga minyak kedepannya.
Harga minyak kemarin ditutup lebih tinggi saat sesi berlangsung, namun akhirnya mundur dari puncaknya dan Brent berada di bawah $90/bbl pada penutupan. Aksi harga menunjukkan sinyal campuran mengenai arah jangka pendek karena ada keseimbangan antara tekanan geopolitik dan harapan atas pemulihan permintaan. Di sesi perdagangan Asia pagi ini, tren penurunan terlihat menonjol meski sentimen de‑eskalasi tetap menjadi faktor penentu.
Berita bahwa mediator sedang mengusulkan gencatan senjata 10 hari menambah dinamika positif bagi pembicaraan MoU, meski prosesnya tidak sederhana. Pasar masih menilai bahwa kemunduran konflik bisa membuka peluang bagi normalisasi aliran minyak, meskipun bukti konkret belum jelas. Investor mengarahkan fokus pada bagaimana perkembangan politik dan data makro mempengaruhi prospek permintaan serta pasokan minyak global.
Bagi pelaku pasar, skenario utama adalah menyeimbangkan risiko geopolitik dengan potensi pemulihan permintaan. Dalam konteks itu, analisis fundamental dan pemantauan teknikal perlu dipadukan untuk menimbang peluang perdagangan yang mungkin muncul. Karena rasio risiko-imbalan harga mendasar pada kisaran 1:1,5 atau lebih, disarankan bagi investor untuk menunggu sinyal jelas sebelum mengambil posisi.