BRI Dorong Kredit Double Digit di 2025, NPL Naik dan NIM Turun: Analisis Cetro Trading Insight

BRI Dorong Kredit Double Digit di 2025, NPL Naik dan NIM Turun: Analisis Cetro Trading Insight

trading sekarang

BRI menegaskan posisinya sebagai mesin ekspansi kredit sepanjang 2025, menggerakkan portofolio pembiayaan dengan ritme yang tinggi. Keberanian dalam menyalurkan kredit didorong oleh strategi fokus pada UMKM dan koperasi desa. Dalam konteks ini, kinerja bank menunjukkan daya tahan meski kompetisi sektor keuangan meningkat.

Penyaluran kredit BRI mencapai Rp1.521,5 triliun pada 2025, tumbuh 12,3% secara tahunan. Pertumbuhan ini didorong oleh program KDMP yang meningkatkan akses pembiayaan di koperasi desa serta sektor UMKM. Sementara Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan mencapai Rp176 triliun untuk sekitar 3,8 juta debitur, menunjukkan peran penting BRI dalam mendukung pelaku usaha kecil.

Di sisi operasional, ekspansi kredit berjalan dengan tantangan terkait kualitas aset. Laporan keuangan mencatat dinamika risiko yang perlu diawasi, meski tidak mengaburkan tren pertumbuhan total. Cetro Trading Insight menilai bahwa fondasi likuiditas tetap kuat untuk mendukung ekspansi lebih lanjut meski manajemen risiko perlu diteguhkan.

IndikatorNilai 2025
Penyaluran KreditRp1.521,5 triliun (+12,3%)
KURRp176 triliun untuk 3,8 juta debitur
DPKRp1.466,8 triliun
CASA70,61%

Sisi kualitas aset menjadi sorotan meskipun volume kredit melesat, mencerminkan tekanan kredit macet pada level gross. Rasio Kredit Bermasalah (NPL) gross meningkat menjadi 3,29% per akhir 2025, menandakan peningkatan kualitas kredit yang perlu diawasi. Meski demikian, bank berupaya menjaga penyaluran dengan mitigasi risiko dan kebijakan penilaian yang lebih berhati-hati.

Margin pendapatan bunga (NIM) turun dari 6,75% di 2024 menjadi 6,54% di 2025, menandai normalisasi spread pembiayaan. Sementara pendapatan nonbunga melonjak 59% menjadi Rp116,6 triliun, memberikan peredam terhadap penurunan NIM. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 7,4% menjadi Rp1.466,8 triliun, didorong giro 19,6% menjadi Rp448,2 triliun.

Tabungan tumbuh 8% menjadi Rp588 triliun dan deposito turun 3,5% menjadi Rp431 triliun, menunjukkan perubahan komposisi sumber dana. Porsi CASA mencapai 70,61% dari total DPK, menandakan stabilitas biaya-biaya dana yang relatif rendah. Beban operasional meningkat 49% menjadi Rp147,7 triliun, sehingga BOPO naik menjadi 71,50% dan menambah tekanan pada efisiensi.

Dinamika Likuiditas, Profitabilitas, dan Perspektif Investor

Laba bersih konsolidasi BRI tercatat Rp57,1 triliun, turun sekitar 5,3% dibandingkan 2024. Penurunan laba didorong oleh peningkatan nilai kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) menjadi Rp46,1 triliun. Di sisi lain, faktor pajak menahan tekanan karena beban pajak turun 8% menjadi Rp15,7 triliun.

Dari sisi likuiditas dan modal, Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di 21,06% pada akhir 2025, turun dibanding 24,41% pada 2024. Loan to Deposit Ratio (LDR) meningkat menjadi 91,96%, menandai penggunaan dana pihak ketiga untuk kredit yang lebih tinggi. Tekanan likuiditas diakibatkan langkah agresif penyaluran kredit yang didorong oleh ekspansi bank.

Secara keseluruhan, dinamika ini tidak memberikan sinyal rekomendasi beli atau jual yang jelas. Analisa ini menekankan pentingnya memantau tren NIM, NPL, BOPO, dan CAR untuk menilai risiko dan peluang ke depan. Laporan ini disampaikan oleh Cetro Trading Insight untuk membantu pembaca memahami implikasi kinerja 2025 terhadap investasi di sektor perbankan Indonesia.

broker terbaik indonesia