Bursa Asia Rebound Setelah Pelemahan Logam Mulia: Nikkei Melonjak hingga 2,9%, KOSPI Bangkit, Sentimen Investor Pulih

Bursa Asia Rebound Setelah Pelemahan Logam Mulia: Nikkei Melonjak hingga 2,9%, KOSPI Bangkit, Sentimen Investor Pulih

trading sekarang

Bursa saham Asia bergerak menggeliat setelah kemarin mengalami tekanan akibat aksi jual logam mulia yang perlahan mereda, memberikan napas bagi para investor untuk menata ulang posisi. Dalam suasana yang relatif tenang, para pelaku pasar mencoba menilai ulang peluang di tengah ketidakpastian eksternal. Cetro Trading Insight menyajikan gambaran pasar dengan bahasa yang mudah dipahami, tanpa mengorbankan akurasi fakta.

Nikkei Jepang melesat 2,90 persen pada perdagangan Selasa, sementara Topix yang lebih luas juga menguat sebesar 2,46 persen. Sebelumnya, indeks tersebut sempat ditutup melemah 1,25 persen akibat tekanan dari pasar logam mulia. Pergerakan ini mencerminkan dinamika di mana investor mulai kembali berburu saham meski pembaruan data ekonomi belum sepenuhnya konklusif.

Rilis data menunjukkan bahwa aksi jual logam mulia telah mereda, sehingga investor kembali menimbang risiko dan peluang di pasar saham. Penilaian ini selaras dengan pandangan para analis yang mengatakan bahwa sentimen positif di pasar global turut mendongkrak minat beli di Asia, meski volatilitas tetap ada.

Di Wall Street, pembuka pekan berakhir dengan kebangkitan: indeks S&P 500 ditutup menguat, didorong kenaikan saham-saham produsen chip dan perusahaan yang terkait kecerdasan buatan. Sektor saham berkapitalisasi kecil juga menunjukkan performa positif, sementara Nasdaq dan Dow Jones Industrial Average turut menguat tipis. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa sentimen risiko sedang kembali pulih meski ada sejumlah ketidakpastian struktural.

Di Asia, Korea Selatan ikut terangkat dengan indeks KOSPI naik 4,45 persen pada Selasa. Reli ini memicu pembatasan perdagangan (sidecar trading curb) pada indeks KOSPI pukul 07.26 WIB karena kontrak berjangka melonjak 5 persen. Aksi pembatasan ini mencerminkan tingkat volatilitas yang masih tinggi namun menandakan bahwa eksekutif pasar siap menahan gejolak berlebih.

Di sisi lain, pasar regional menunjukkan kontras: ASX 200 Australia naik 1,04 persen, STI Singapura terkerek 0,87 persen, sementara Shanghai Composite melemah 0,01 persen dan Hang Seng turun 0,99 persen. Dinamika seperti ini menandakan bahwa pergerakan regional tetap dipengaruhi pergeseran risiko global dan pergeseran kebijakan moneter yang beragam antar negara.

Investor kini menilai data aktivitas pabrik AS yang solid sebagai indikator ketahanan ekonomi dan katalis bagi reli saham di beberapa pasar, khususnya yang memiliki eksposur teknologi dan manufaktur. Data tersebut menjadi penopang bagi pandangan bahwa ekonomi global masih mampu bertahan meskipun ada faktor ketidakpastian dari sisi geopolitik maupun kebijakan moneter.

Selain itu, Korea Selatan menegaskan bahwa pemerintah memiliki kapasitas kebijakan yang memadai untuk menyikapi berbagai ketidakpastian eksternal, sementara inflasi konsumen melandai ke level terendah dalam lima bulan pada Januari. Kondisi ini memberi ruang bagi sentimen investor untuk tetap positif, meski volatilitas tetap menjadi bagian dari dinamika pasar.

Secara keseluruhan, para pembaca Cetro Trading Insight disarankan untuk mengamati momentum teknikal di indeks utama, sambil memperhatikan faktor fundamental seperti data produksi, inflasi, dan kebijakan fiskal regional. Proyeksi jangka pendek tetap menekankan kehati-hatian dengan potensi peluang di sektor teknologi dan siklus komoditas global yang bisa memicu pergerakan lanjutan di wilayah Asia dan pasar tingkat lanjut.

broker terbaik indonesia