IHSG diperkirakan bergerak positif terbatas pada perdagangan Selasa, 3 Februari 2026, meski koreksi tajam di awal pekan masih meninggalkan bayangan volatilitas. Pelaku pasar menilai peluang rebound tipis setelah indeks turun cukup tajam. Array dinamika sentimen investor global turut mempengaruhi arah IHSG dalam hari-hari mendatang.
Analisa teknikal dan fundamental bersama-sama membentuk pandangan bahwa rentang 7.900 hingga 8.100 menjadi batas wajar untuk pergerakan indeks, seiring membaiknya sentimen global. Riset tersebut menegaskan bahwa faktor eksternal akan menjadi penentu utama arah IHSG di sesi berikutnya. Cetro Trading Insight menyoroti bahwa peluang ini juga dipantau melalui indikator teknis yang mendukung pergerakan harga yang berhati-hati.
Secara umum, pembacaan pasar menunjukkan peluang rebound meskipun volatilitas tetap tinggi. Emas harga dan dinamika harga komoditas lain menjadi variabel yang perlu diperhatikan para pelaku pasar. Array investor dan pelaku institusional cenderung menimbang risiko sambil mencari peluang di beberapa sektor unggulan.
Analis Ratih Mustikoningsih dari Ajaib Sekuritas menyebut IHSG berpotensi bergerak dalam rentang 7.900-8.100 seiring membaiknya sentimen global dan inflow asing masuk. Riset harian tersebut menekankan adanya peluang rebound meskipun tekanan jual masih terlihat pada beberapa sektor. Pergerakan harga di level tersebut akan bergantung pada faktor eksternal seperti fluktuasi risiko global dan dinamika arus modal, termasuk Array arus masuk investor asing.
Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup anjlok sekitar 4,88 persen di level 8.922, menandai pelaku pasar yang melakukan aksi ambil untung. Tekanan jual terutama terasa pada saham-saham komoditas dan konglomerasi akibat penurunan harga emas harga, perak, dan nikel di pasar global. Kondisi ini mengarahkan fokus pada bagaimana emas harga dapat memengaruhi persepsi risiko dan arah aliran dana global dalam minggu-minggu mendatang.
Di tengah sentimen yang masih rapuh, muncul sinyal positif dari pergerakan investor asing yang tercatat inflow bersih Rp654 miliar, menahan tekanan lanjutan pada IHSG. Array refleksi investor asing ini menjadi salah satu faktor penting yang bisa menjaga IHSG tetap berada di jalur relatif positif meskipun prospek ekuitas domestik masih dipicu beberapa risiko kebijakan negara.
Secara year to date (ytd), IHSG masih menjadi yang terlemah di ASEAN dengan koreksi mencapai 8,38 persen. Namun, data makroekonomi nasional tetap menjadi penopang yang kuat bagi para pelaku pasar. Neraca perdagangan Indonesia untuk Desember 2025 mencatat surplus sebesar USD 2,52 miliar, melanjutkan surplus bulan sebelumnya, dan secara kumulatif IHSG tetap berada pada posisi yang relatif stabil. Array momentum pasar global juga berkontribusi pada dinamika ini.
Dari luar negeri, bursa Wall Street rebound di awal pekan dipimpin saham-saham teknologi AI dan semikonduktor, memberi sinyal kembalinya sentimen risk-on. Penguatan ini turut menular ke kawasan Asia Pasifik, dengan beberapa indeks utama mencatat kenaikan signifikan. Perkembangan emiten teknologi besar seperti Alphabet dan Amazon menjadi fokus utama pelaku pasar, mengingat dampak potensialnya terhadap sentimen investasi di pasar negara berkembang.
Secara kebijakan, masih ada perhatian terhadap kebijakan transparansi free float minimal di atas 1 persen yang menjadi bagian dari pembahasan MSCI dengan regulator. Kebijakan tersebut berpotensi menciptakan tekanan terhadap saham konglomerasi yang memiliki profil likuiditas berbeda. Emas harga tetap menjadi variabel volatilitas global yang perlu dipantau investor, sementara Array indikator teknikal menandai peluang bagi beberapa saham unggulan untuk melakukan perbaikan arah.
Berikut rekomendasi Saham Ajaib Sekuritas yang relevan untuk investor: TOWR disarankan Accum Buy dengan harga penutupan 530, target 550, stop loss 490. Indikator stochastic menunjukkan crossing di area support, indikatif rebound jangka pendek. EXCL direkomendasikan Buy on Pullback dengan penutupan 2.910, target 3.040, SL 2.840, didukung oleh bounce dari area support dan momentum stochastic yang kembali oversold dalam kerangka short-term. CTRA juga direkomendasikan Accum Buy dengan penutupan 810, target 840, SL 780, dengan MACD yang menunjukkan histogram melemah secara momentum akumulasi.
Rekomendasi EXCL menonjol sebagai peluang dengan potensi risiko-imbalan yang lebih seimbang, mengikuti pola teknikal yang menunjukkan rebound pada level support. Dalam konteks ini, analisis teknikal menjadi elemen utama, meskipun faktor fundamental seperti arus modal dan data perdagangan turut membentuk gambaran jangka pendek. Array fokus pada tiga saham ini menambah variasi portofolio sambil tetap memperhatikan risiko yang terukur.
Dari sisi sinyal trading, EXCL menjadi instrumen utama dengan open 2.910, tp 3.040 dan sl 2.840, sedangkan TOWR dan CTRA menawarkan alternatif dengan profil risiko-imbalan yang berbeda. Sinyal secara keseluruhan dinilai sebagai buy, dengan fokus pada peluang perbaikan teknikal dan dukungan data makro. Emas harga dan Array rekomendasi saham Ajaib menjadi pendorong yang perlu dipantau untuk menjaga konsistensi strategi portofolio dalam jangka menengah.