CAD Indonesia Diperkirakan Membesar 1% PDB pada 2026 karena Impor Tinggi dan Risiko Eksternal

CAD Indonesia Diperkirakan Membesar 1% PDB pada 2026 karena Impor Tinggi dan Risiko Eksternal

trading sekarang

Menurut riset UOB Global Economics & Markets, neraca berjalan Indonesia kembali defisit pada 4Q25 sebesar USD2,54 miliar (sekitar 0,7% dari PDB), membalikkan surplus pada kuartal sebelumnya. Defisit ini terutama disebabkan pelemahan di sektor jasa serta pendapatan primer yang lebih rendah dari harapan. Secara tahunan, CAD FY25 tercatat USD1,5 miliar atau 0,1% PDB, lebih rendah dibanding defisit 2024 sebesar USD8,6 miliar.

Pembacaan defisit 4Q25 menegaskan bahwa tekanan eksternal tetap dominan meski adanya perbaikan di beberapa segmen. Impor yang lebih tinggi dan defisit pendapatan primer berulang kali menjadi pendorong utama, menahan momentum pemulihan. Dengan kondisi ini, kebijakan fiskal dan fiskal-investasi perlu tetap fokus pada menjaga stabilitas eksternal sambil mendorong reformasi struktural.

Risiko eksternal tetap mengemuka, termasuk potensi tarif AS dan ketegangan geopolitik, meskipun CEPA dengan mitra seperti Uni Eropa, Kanada, dan Korea Selatan menawarkan peluang diversifikasi. Program investasi strategis Danantara disebut-sebut sebagai pendorong arus investasi domestik yang bisa memperkuat posisi eksternal, asalkan pelaksanaan proyek berjalan lancar. Peluang ini perlu dimanfaatkan melalui kerangka kebijakan yang konsisten serta peningkatan transparansi perdagangan.

Proyeksi CAD untuk 2026 diperkirakan melebar menjadi sekitar 1% dari PDB karena impor tetap meningkat dan defisit pendapatan primer tidak segera mereda. Tekanan impor memperparah posisi neraca, sementara defisit sektor jasa tetap menjadi komponen utama defisit secara triwulan. Angka-angka ini menandakan kelanjutan dinamika CAD yang perlu diawasi oleh pembuat kebijakan.

Risiko eksternal tetap menjadi faktor utama, termasuk tekanan geopolitik dan potensi tarif AS yang dapat mengganggu arus perdagangan. Meskipun demikian, perjanjian CEPA dengan mitra utama seperti UE, Kanada, dan Korea Selatan memberikan peluang diversifikasi bagi jalur ekspor-impor Indonesia. Arah CAD masih sangat sensitif terhadap perubahan kondisi global meski diversifikasi perdagangan dapat menahan tekanan tertentu.

Beberapa potensi upside muncul dari investasi dalam proyek strategis Danantara yang dipandang sebagai pembangkit arus investasi langsung domestik. Presiden Prabowo menargetkan total aset investasi sekitar USD 900 miliar, sebuah angka ambisius yang jika terealisasi berpotensi merombak profil finansial negara. Namun realisasi proyek dan iklim investasi yang kondusif menjadi syarat krusial bagi manfaat bagi CAD.

Implikasi Kebijakan dan Peluang Investasi Domestik

Secara pasar, tekanan eksternal bisa membatasi ruang kebijakan jika defisit berjalan lebih besar dari ekspektasi. Ketidakpastian global meningkatkan volatilitas mata uang dan arus modal, meskipun beberapa langkah kebijakan dapat menahan dampak tersebut. Investor sebaiknya memantau arah arus modal dan perubahan neraca perdagangan untuk menilai risiko jangka pendek.

Implikasi kebijakan menuntut keseimbangan antara stimulasi ekonomi dan stabilitas eksternal. Rencana reformasi iklim investasi, transparansi regulasi, dan insentif untuk proyek infrastruktur menjadi pilar untuk menarik modal dan memperdalam perdagangan. Bank sentral perlu menjaga likuiditas serta stabilitas nilai tukar tanpa menambah beban biaya pembiayaan bagi pelaku bisnis.

Kesimpulannya, meski CAD Indonesia menghadapi risiko eksternal, peluang diversifikasi perdagangan melalui CEPA dan realisasi investasi proyek besar bisa membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi. Penguatan kebijakan dan pelaksanaan proyek akan menjadi kunci untuk mewujudkan manfaat tersebut. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk membantu pembaca memahami dinamika CAD dan dampaknya terhadap stabilitas mata uang serta prospek investasi di Indonesia.

broker terbaik indonesia