Bank Sentral Turki diperkirakan mempertahankan suku bunga repo satu minggu pada 37% dan menjaga sikap hawkish. Analisis menunjukkan pembiayaan efektif telah bergeser sepenuhnya ke skema overnight lending window, meningkatkan tingkat pembiayaan efektif hingga sekitar 40%. Langkah ini menandakan komitmen bank sentral untuk mempertahankan kondisi likuiditas ketat guna menahan depresiasi Lira.
Penggunaan cadangan devisa secara masif dan penyedotan likuiditas bertujuan menopang nilai Lira dan menjaga stabilitas pasar. Bank juga mencatat bahwa pembatasan arus keluar modal dan tekanan volatilitas menjadi fokus utama melalui intervensi ini. Kondisi tersebut menciptakan lingkungan defensif bagi pasar, khususnya pada likuiditas jangka pendek.
Meski langkah-langkah penopang dilaksanakan, proyeksi inflasi diperkirakan akan meningkat dan kebijakan suku bunga kemungkinan tetap tidak berubah setidaknya hingga Juni. Tekanan inflasi juga membuat band proyeksi akhir-2026 berpotensi direvisi lebih tinggi. Pelaku pasar disarankan memantau pernyataan CBRT serta pembaruan proyeksi inflasi untuk menilai arah risiko mata uang.
Analisis menunjukkan inflasi diperkirakan semakin naik, sehingga bank sentral cenderung menahan suku bunga hingga setidaknya Juni. Proyeksi saat ini juga menyiratkan band inflasi akhir-2026 bisa direvisi menjadi sekitar 20–24%, lebih tinggi dibanding rentang sebelumnya. Gambaran ini mencerminkan ketahanan kebijakan terhadap tekanan harga dan nilai tukar yang tetap tinggi.
CBRT menunda pembukaan window repo mingguan dan memindahkan pembiayaan sepenuhnya ke overnight lending window. Perubahan ini mendorong tingkat pembiayaan efektif ke sekitar 40%. Langkah tersebut memperkuat posisi bank sentral dalam menjaga likuiditas tetap ketat meskipun pasar menghadapi dinamika eksternal.
Menurut rumah pembuat kebijakan, langkah-langkah ini diharapkan berlangsung hingga mendekati akhir 2026. Analisis menunjukkan garis saat ini kemungkinan menyesuaikan proyeksi inflasi sejalan dengan realitas ekonomi. Penilaian tersebut menambah kehati-hatian bagi investor terhadap aset berisiko di negara tersebut.
FX reserves sekitar $12 miliar telah digunakan sejak konflik di Timur Tengah dimulai untuk menahan depresiasi Lira di bawah level 44.00 terhadap Dolar AS. Selain itu, bank sentral juga menyedot likuiditas berlebih sekitar TRY 1.2 triliun untuk menjaga tekanan finansial tetap tinggi. Langkah-langkah ini memiliki dampak signifikan pada likuiditas pasar dan biaya pinjaman di pasar lokal.
Larangan short selling menjadi bagian dari kebijakan untuk menahan volatilitas. Kebijakan ini membatasi peluang spekulasi jangka pendek bagi pelaku pasar lokal. Dalam jangka panjang, risiko tetap ada, dan kebijakan ini bisa mendorong pergeseran ke hedging yang lebih konservatif.
Dalam konteks trading, para pelaku pasar disarankan fokus pada manajemen risiko karena kebijakan masih dinamis. Ketidakpastian inflasi dan faktor eksternal tetap menjadi risiko utama bagi mata uang. Karena tidak ada sinyal perdagangan yang jelas dari informasi ini, pedoman saat ini adalah berhati-hati dan menghindari over-leverage.