Data perdagangan China untuk Maret menunjukkan dinamika yang berbeda antara ekspor dan impor. Dalam nilai dolar, ekspor turun 2,5% secara tahunan, sementara impor melonjak 27,8% y/y. Hasilnya, surplus perdagangan menyusut menjadi US$51,13 miliar, terendah dalam 13 bulan. Angka ini menyoroti perubahan pola perdagangan antara permintaan global dan biaya energi yang lebih tinggi.
Para analis seperti UOB mencatat bahwa faktor musiman dan basis tinggi pada Maret tahun lalu memberi beban pada ekspor. Di sisi impor, harga energi dan bahan baku yang lebih tinggi menjadi pendorong utama. Meskipun pertumbuhan ekspor melambat, arus impor tetap kuat karena pembelian barang-modal dan komoditas utama.
Secara kumulatif kuartal pertama, kinerja perdagangan Cina tetap solid. Ekspor naik sekitar 14,7% y/y, sedangkan impor melonjak 22,7% y/y. Surplus kumulatif 1Q26 mencapai sekitar US$264,33 miliar, sedikit lebih rendah dibanding US$271,09 miliar pada 1Q25. Meski begitu, analisis menyarankan evaluasi lebih lanjut mengenai dampak potensi eskalasi konflik terhadap permintaan global dan prospek ekspor.
Komposisi impor menunjukkan dinamika menarik. Impor semikonduktor dan komputer tetap terjaga, didukung pembelian logam utama seperti tembaga dan besi. Selain itu, impor batu bara dan produk minyak bumi halus meningkat seiring permintaan industri, sementara impor minyak mentah dan LPG menurun karena gangguan pasokan di Timur Tengah.
Nilai impor dipicu oleh kenaikan harga global untuk energi dan bahan baku, meski volume relatif berubah. Lonjakan harga menekan biaya impor secara agregat dan berpotensi membentuk tekanan pada harga barang konsumen. Perkembangan ini menegaskan pentingnya memperhatikan dinamika harga komoditas dan pergerakan kurs.
Kondisi geopolitik yang berlarut-larut menambah risiko bagi harga impor di masa depan. Eskalasi konflik, terutama di wilayah Timur Tengah, dapat mempengaruhi permintaan dan pasokan global. Secara umum, risiko geopolitik mendukung pandangan bahwa tekanan harga impor bisa berlanjut beberapa bulan mendatang.
Meskipun Maret menunjukkan data perdagangan yang beragam, kinerja kumulatif 1Q26 tetap solid. Pertumbuhan ekspor dan impor yang positif mencerminkan permintaan global yang tetap kuat untuk beberapa segmen, meskipun ada volatilitas dari harga energi dan biaya input.
Bagi pelaku pasar, perubahan ini bisa memengaruhi sentimen terhadap mata uang dan aset berisiko. Perlu diwaspadai risiko penurunan permintaan global jika konflik regional memburuk, meskipun stabilitas sektor teknologi China menjadi faktor pendukung.
Analisis strategis menekankan bahwa fluktuasi harga energi dan biaya impor dapat mempengaruhi margin perusahaan dan biaya produksi di berbagai sektor. Investor disarankan mengikuti perkembangan kebijakan perdagangan China, harga komoditas energi, serta pergerakan yuan terhadap dolar untuk menilai dampak jangka pendek hingga menengah.