CHIP Bagikan Dividen Rp1,43 per Lembar Meski Laba Turun 50%; Lindung Nilai USD dan Ekspansi Afrika Jadi Fokus

CHIP Bagikan Dividen Rp1,43 per Lembar Meski Laba Turun 50%; Lindung Nilai USD dan Ekspansi Afrika Jadi Fokus

trading sekarang

CHIP menarik perhatian investor dengan mengumumkan dividen tunai Rp1,43 per lembar saham untuk laba bersih tahun buku 2025. Meski laba bersih perseroan turun secara signifikan, keputusan pembagian dividen menunjukkan niat menjaga aliran yield bagi pemegang saham. Langkah ini dipandang sebagai sinyal stabilitas keuangan di tengah tekanan makro dan volatilitas pasar.

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang berlangsung di TB Simatupang, Jakarta, menetapkan bahwa dividen senilai 25% dari laba bersih perseroan akan dibayarkan. Keputusan tersebut disahkan setelah evaluasi atas kinerja operasional dan kebijakan keuangan perusahaan. Atas dasar itu CHIP berkomitmen menjaga pendapatan dividen meskipun tantangan kinerja 2025 terasa.

Laba bersih CHIP turun hampir 50% menjadi sekitar Rp4 miliar dibandingkan tahun sebelumnya Rp8 miliar. Penjualan juga mengalami penurunan, namun arus kas operasional tetap positif sekitar Rp1,2 miliar. Poin pentingnya adalah bahwa perusahaan tetap membiayai operasi dan berkomitmen membagikan dividen sesuai rencana.

Dari sisi neraca, CHIP menunjukkan posisi keuangan yang relatif sehat meski lingkungan bisnis menantang. Total aset tercatat sekitar Rp115 miliar di 2025, meningkat dari Rp113 miliar pada 2023. Arus kas operasional tetap positif memberikan bantalan bagi peluang investasi dan rencana produksi.

Current ratio sekitar 3x dan debt to equity sekitar 69%. Rasio liabilitas terhadap aset berada pada 41 persen, mencerminkan struktur keuangan yang sehat meski laba menurun. Angka-angka tersebut memberi kepercayaan pada kelangsungan operasional jangka menengah.

RUPST juga menyetujui alokasi Rp200 juta ke dana cadangan, serta penetapan honorarium direksi dan komisaris dengan kenaikan tidak lebih dari 10% dibanding tahun sebelumnya. Audit akan ditindaklanjuti oleh kantor akuntan publik yang telah dipilih melalui Komite Audit, Remunerasi, dan Nominasi. Upaya tata kelola ini menegaskan komitmen CHIP pada transparansi dan kepatuhan.

Rencana Ekspansi, Lindung Nilai, dan Inovasi Produk

Di tengah volatilitas nilai tukar rupiah terhadap USD, CHIP mengakselerasi strategi lindung nilai dengan memperbesar stok bahan baku untuk tiga hingga enam bulan ke depan. Langkah ini dirancang untuk menjaga stabilitas biaya pembelian di tengah pergerakan dolar yang agresif. Manajemen menilai persediaan lebih panjang akan mengurangi dampak biaya input serta mengamankan kelangsungan produksi.

Penjualan ekspor dalam mata uang dolar, terutama ke Zambia Telecom, memberikan efek lindung nilai alami terhadap pembelian bahan baku impor. Kenaikan nilai tukar dolar membuat arus kas dari ekspor lebih kompetitif dan membantu substitusi impor. Kepemimpinan CHIP menegaskan bahwa ekspor tidak hanya menambah pendapatan tetapi juga memperkokoh posisi hedging perusahaan.

CHIP juga menjajaki kontrak dengan agen bisnis di Nigeria sebagai langkah ekspansi Afrika. Perusahaan menempatkan eSIM sebagai produk unggulan yang didorong regulasi negara-negara mewajibkan penggunaan eSIM demi keamanan data. Dengan pendekatan ini, CHIP berharap memperluas pangsa pasar dan meningkatkan pertumbuhan pendapatan di pasar teknologi seluler regional.

banner footer