
Menurut UOB Global Economics & Markets Research yang dipimpin Enrico Tanuwidjaja dan Sathit Talaengsatya, data CPI Thailand terbaru menunjukkan inflasi yang lebih didorong oleh biaya input daripada dorongan permintaan domestik. Hal ini menegaskan bahwa tekanan biaya menjadi faktor utama yang membentuk arah harga secara umum. Dalam konteks ini, proyeksi headline inflation dipertahankan pada 1.4% untuk 2026 dan 1.2% untuk 2027, sambil menilai kebijakan moneter yang stabil.
Mereka juga menegaskan BoT akan mempertahankan suku bunga repo 1,00% melalui 2026 dan 2027 meskipun ada risiko upside pada inflasi. Asumsi valuta dan energi dipakai untuk menduga jalur inflasi, termasuk skema harga Dubai crude sekitar USD75–85 per barel dan kurs USD/THB di kisaran 32,5–33,5. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di rentang 1,5–2,5% sepanjang periode tersebut, dengan proyeksi historis yang mendasari pandangan stabil tersebut.
Penilaian ini menegaskan bahwa kebijakan moneter tidak segera mengubah biaya minyak, freight, atau input pangan secara signifikan. Oleh karena itu, direkomendasikan untuk menjaga kebijakan pada 1,00% melalui 2026–27 agar ekspektasi inflasi tetap terjaga. BoT perlu mengantisipasi bahwa sinyal pasar bisa berubah jika tekanan biaya berlanjut atau jika dampak keduanya menyebar ke upah dan harga layanan.
Para analis dari bank menganalisis bahwa pemerintah Bangkok memperkirakan inflasi 2026 pada kisaran 1,5–2,5% dengan midpoint 2,0%. Jalur harga ini disampaikan bersama kerangka kerja mata uang dan pertumbuhan, yang menghasilkan rata-rata 2026 sekitar 2,32%. Karena itu, asumsi stabilitas kebijakan menjadi bagian penting dari simulasi kebijakan jangka menengah.
BoT dipandang lebih hawkish untuk jangka pendek karena tekanan harga intinya tetap kuat di awal periode. Kenaikan CPI 2026 diperkirakan mencapai 2,9% atau 3,0% setelah memperhitungkan langkah-langkah pemerintah, sebelum turun menjadi 1,4% pada 2027 seiring pelunakan gelombang energi. Analisis ini menekankan bahwa komponen transisi seperti basis biaya dan kebijakan fiskal dapat mempengaruhi lintasan inflasi, meskipun efeknya diharapkan menyusut.
Pengarsipan analisis menyiratkan bahwa BoT perlu menjaga kebijakan 1,00% melalui 2026–27 agar kebijakan moneter tetap kredibel. Jika inflasi berkurang seiring berakhirnya kejutan energi, ruang untuk pengetatan lebih lanjut tetap terbatas. Ekspektasi inflasi jangka menengah perlu tetap terkalibrasi agar tidak menimbulkan tekanan pada nilai tukar atau biaya pinjaman.
Artikel menekankan bahwa Thailand sedang menyerap kejutan terms-of-trade negatif alih-alih mengalami overheating domestik. Tekanan biaya global seperti harga energi membentuk kanal utama pergerakan harga, sedangkan permintaan domestik tidak menunjukkan demam berlebih. Dalam konteks ini, faktor eksternal lebih berperan dalam arah inflasi ketimbang episod permintaan lokal yang kuat.
FX pass-through menjadi fokus karena perubahan nilai tukar dapat menambah tekanan pada harga layanan dan upah. Kisaran USD/THB yang diproyeksikan memberi gambaran bagaimana kebijakan internasional mempengaruhi biaya tetap di Thailand. Kebijakan jangka menengah masih bergantung pada bagaimana ekspektasi inflasi terjaga dan bagaimana biaya input berubah seiring waktu.
Secara keseluruhan, outlook USDTHB dipandang stabil selama aliran biaya input terkendali, dengan BoT menjaga tingkat suku bunga. Jika tekanan energi menahan dan neraca perdagangan membaik, pasangan mata uang bisa berkisar di kisaran yang telah diuraikan tanpa lonjakan volatilitas. Investor perlu memantau rencana fiskal dan volatilitas harga energi karena keduanya dapat mengubah lintasan kebijakan dan arah tukar.