
Di tengah gebrakan kebijakan ekspor yang dikendalikan pemerintah melalui Danantara Sumberdaya Indonesia, lanskap industri pertambangan Indonesia terus berada di bawah tekanan. Perubahan kebijakan tersebut menuntut penyesuaian cepat dari pelaku usaha, khususnya bagi perusahaan tambang dan para penyedia jasa penunjang. Cetro Trading Insight melihat dinamika ini sebagai ujian bagi kelincahan operasional dan kemampuan menjaga arus kas.
Perubahan regulasi tidak hanya menyasar tambang utama tetapi juga berimbas pada kontraktor dan penyedia layanan penunjang. Dalam konteks ini, PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) menjadi contoh bagaimana perusahaan perlu menyeimbangkan antara biaya operasional dan kebutuhan modal kerja. Analisis fundamental menjadi kunci untuk menilai daya tahan perusahaan di tengah dinamika pasar yang volatil.
Menurut Alfred Nainggolan, Kepala Riset Praus Capital, diperlukan pendekatan hati-hati dalam menilai emiten berbasis komoditas. Meski ada tekanan terhadap sektor tersebut, MINE menunjukkan fondasi yang relatif kuat melalui kinerja operasional yang berkelanjutan dan perbaikan struktur permodalan. Analisis ini relevan bagi investor yang mengandalkan kekuatan neraca untuk menghadapi volatilitas.
Pada triwulan pertama 2026, MINE berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp676,19 miliar, naik 18,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Laba usaha mencapai Rp87,98 miliar dan laba periode berjalan sebesar Rp61,95 miliar, menunjukkan kualitas pertumbuhan yang lebih dari sekadar peningkatan angka pendapatan. Laporan keuangan perusahaan juga menyoroti fokus pada arus kas yang kuat sebagai pendorong kelangsungan operasional.
Kualitas pertumbuhan terlihat dari peningkatan kas dan setara kas menjadi Rp346,07 miliar per Maret 2026, naik signifikan dari Rp169,32 miliar pada akhir 2025. Peningkatan likuiditas ini memperkuat kemampuan Perseroan untuk memenuhi kebutuhan operasional dan menahan tekanan dari dinamika pasar. Menurut analis, likuiditas yang sehat adalah fondasi penting bagi sektor jasa pertambangan yang memerlukan modal kerja besar.
Di sisi permodalan, MINE melunasi pinjaman bank jangka pendek yang sebelumnya tercatat di akhir 2025, sehingga DER turun menjadi sekitar 0,67x per Maret 2026 dari sekitar 0,87x pada akhir tahun lalu. Penurunan leverage mengindikasikan kontrol risiko utang yang lebih baik dan kapasitas menghadapi ketidakpastian pasar. EBITDA untuk kuartal pertama diperkirakan sekitar Rp210,6 miliar dengan margin EBITDA sekitar 31 persen, menunjukkan profitabilitas operasional yang solid.
Secara valuasi, MINE terlihat menarik dengan price-to-earnings (PE) sekitar 3,6x dan price-to-book value (PBV) sekitar 0,9x, menandakan potensi upside relatif terhadap struktur modalnya. Dari sisi hasil bagi, perusahaan dinilai memiliki potensi dividen yield yang menarik, dengan proyeksi yield di atas 8 persen untuk tahun buku 2026. Faktor-faktor ini menempatkan MINE pada posisi menarik bagi investor jangka menengah hingga panjang.
Selain soliditas operasional, faktor kunci lain adalah tingkat likuiditas dan kemampuan perusahaan untuk membagikan dividen kepada pemegang saham meski baru menjalankan IPO. Peningkatan arus kas yang konsisten menjadi sinyal bahwa perusahaan memiliki kapasitas arus kas yang cukup untuk mendukung pertumbuhan sambil memberikan imbal hasil. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa profil risiko yang lebih sehat dapat menarik minat investor institusional.
Analisis dari Cetro Trading Insight menekankan bahwa kombinasi pertumbuhan usaha, peningkatan likuiditas, dan penurunan leverage memperkuat kualitas fundamental MINE secara berkelanjutan. Dengan ketahanan neraca dan profitabilitas yang tetap kuat, prospek jangka panjang perusahaan relatif positif meskipun menghadapi kebijakan ekspor yang sedang berjalan. Investor disarankan untuk memantau perkembangan kebijakan ekspor dan dinamika harga komoditas.