Dua pekan gencatan antara AS, Israel, dan Iran telah menekan dolar AS karena peningkatan sentimen risiko global dan penurunan harga Brent. Pasar menilai langkah ini mengurangi risiko kejutan besar yang bisa memicu retracement tajam pada aset berisiko. Kondisi ini berpotensi memperkuat tekanan terhadap dolar dalam jangka pendek jika negosiasi berlanjut dan perkembangan positif terlihat.
Dolar terlihat rentan terhadap kejutan kebijakan dan dinamika geopolitik, sehingga pasar menilai peluang untuk pemulihan lebih lanjut bagi mata uang utama di tengah divergensi kebijakan moneter dengan Eropa. Perjalanan negosiasi yang konstruktif bisa menambah ruang untuk pelemahan dolar lebih lanjut pada beberapa pasangan utama. Investor tetap waspada terhadap volatilitas yang bisa muncul setiap kali berita baru keluar.
Secara keseluruhan, skenario ini menandai pergeseran dari risiko off terhadap risiko-on, yang memberi tekanan bagi aset AS dan memperkaya opsi pelaku pasar terhadap mata uang negara maju lainnya. MUFG menekankan bahwa meskipun potensi pelemahan dolar terlihat, ketidakpastian tetap tinggi karena negosiasi masih berlangsung. Oleh karena itu, pergerakan dolar mungkin bersifat pendek rentang dan membutuhkan pemantauan berita secara kontinu.
Reaksi pasar terhadap berita positif terkait negosiasi dapat mendorong pergerakan balik di pasar mata uang G10. Analisis menunjukkan SEK dan NZD bisa keluar sebagai penopang di tengah perubahan sentimen, sementara NOK dan GBP berpotensi tertinggal jika ekonomi utama menunjukkan dinamika yang berbeda. Aliran modal juga bisa mengalir ke aset yang lebih berisiko jika prospek perdagangan membaik.
Harga minyak Brent turun seiring perbaikan sentimen risiko, yang juga mendukung dinamika mata uang komoditas dan preferensi investor terhadap beberapa negara. Penurunan minyak dapat memperluas tekanan terhadap dolar karena biaya energi yang lebih rendah mengurangi tekanan inflasi dan dampak kebijakan moneter. Ketidakpastian bisa tetap ada hingga negosiasi mencapai kemajuan nyata.
Pelaku pasar akan menimbang perkembangan negosiasi dengan saksama sebelum menebus posisi, karena reaksi jangka pendek sangat sensitif terhadap berita terbaru. Pergerakan volatilitas cenderung meningkat pada kabar baru dari pihak terkait. Strategi perdagangan yang efektif perlu mempertimbangkan risiko geopolitik, panduan kebijakan, dan arah sentimen risiko secara menyeluruh.