Laporan riset Grup DBS Bank, ditulis oleh Taimur Baig, Ph.D., Kepala Ekonom, dan Nathan Chow, Ekonom Senior dan Strategis, menilai dampak potensial intervensi AS terhadap harga minyak. Mereka memisahkan antara dampak sanksi saat ini yang diperkirakan terbatas dan respons militer yang berpotensi mengubah dinamika pasar. Analisis ini menekankan bahwa pasar minyak sangat sensitif terhadap ketegangan geopolitik, meskipun jalur kebijakan saat ini belum menunjukkan pelonggaran besar.
Meski sanksi saat ini tidak menghasilkan perubahan material pada pasokan minyak, risiko politis tetap mengintai. Jika rezim Iran menghadapi ancaman serius, harga minyak bisa merangsek ke level USD100 per barel. Para analis menekankan bahwa kejutan geopolitik bisa mengguncang sentimen pelaku pasar dalam waktu singkat.
Dalam konteks ini, para pembuat kebijakan global menghadapi dilema antara mengekang produksi dan menghindari eskalasi. Kenaikan risiko geopolitik bisa menjadi faktor pendorong harga minyak meskipun inflasi global mulai mereda. Laporan ini mengundang perhatian terhadap bagaimana respons militer dapat memicu volatilitas yang lebih besar di pasar energi.
Menurut analisis, jika intervensi militer dilakukan, harga minyak berpotensi melaju ke sekitar USD100 per barel atau lebih tinggi. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi gangguan pasokan dan meningkatnya premi risiko di pasar energi. Hal ini menggambarkan bagaimana peristiwa geopolitik bisa mengubah ekspektasi produksi dan aliran minyak global.
Penundaan serangan pun tidak selalu menenangkan pasar minyak. Bahkan jika respons militer belum terjadi secara langsung, spekulasi tentang tindakan apa yang akan diambil dapat mendorong volatilitas. Para pelaku pasar perlu menilai faktor-faktor teknis dan fundamental yang mendorong pergerakan harga.
Laporan menekankan bahwa minyak dapat menjadi pengganggu utama saat inflasi global menurun dan likuiditas pasar energi menurun. Dalam skenario ini, risiko geopolitik menjadi komponen utama dari premia risiko. Investor disarankan mengikuti perkembangan kebijakan dan peringatan keamanan untuk mempersiapkan potensi pergeseran harga.
Bagi pelaku pasar, skenario ini menegaskan pentingnya manajemen risiko dalam perdagangan minyak. Penggunaan stop loss yang ketat dan ukuran posisi yang tepat menjadi prioritas saat volatilitas meningkat. Selain itu, diversifikasi eksposur energi dapat membantu menahan dampak kejutan geopolitik.
Saat ini, sinyal perdagangan berdasarkan isi laporan belum cukup untuk memasuki posisi, sehingga sinyal yang dianalisis adalah no. Tidak ada level masuk atau keluar yang jelas yang bisa dijadikan acuan. Oleh karena itu, para trader disarankan menunggu konfirmasi lebih lanjut dari rilis data geopolitik.
Cetro Trading Insight menyarankan pemantauan berita internasional dan analisa kebijakan AS terkait Iran sebagai bagian dari strategi risiko terhadap minyak. Memahami narasi geopolitik dapat membantu investor menilai peluang jangka menengah hingga panjang. Media kami berkomitmen menyajikan analisis yang berimbang untuk membantu pembaca membuat keputusan lebih terinformasi.