Rupiah mengakhiri minggu dengan momentum positif terhadap dolar AS meski pergerakan intraday pada Jumat (13/2/2026) sedikit melemah 0,05 persen ke level Rp16.836 per dolar. Kondisi ini menandai adanya keseimbangan antara dorongan sentimen global dan dinamika domestik yang membentuk arah rupiah.
Mingguan, rupiah menguat sekitar 0,23 persen dibandingkan penutupan Jumat sebelumnya di Rp16.876. Kurs referensi Jisdor BI juga menunjukkan penguatan 0,25 persen ke Rp16.844 per dolar AS, meski secara harian turun tipis 0,10 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pergerakan rupiah tetap berada dalam kerangka volatilitas yang relatif wajar.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa rupiah saat ini terjepit antara sentimen global dan dinamika domestik. Di Amerika Serikat, data ritel Desember menunjukkan penurunan pengeluaran konsumen, sementara laporan ketenagakerjaan Januari menunjukkan kekuatan pasar kerja yang mengejutkan. Nonfarm Payrolls melonjak 130.000, jauh melampaui ekspektasi sekitar 70.000 pekerjaan; tingkat pengangguran turun menjadi 4,3 persen dan pendapatan rata-rata per jam naik 0,4 persen MoM. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.
Dari sisi domestik, fokus pasar beralih pada kondisi fiskal Indonesia dan lonjakan belanja negara pada APBN 2026. Belanja negara dipatok Rp3.842,7 triliun, meningkat sekitar Rp391,3 triliun dibanding realisasi 2025 sebesar Rp3.451,4 triliun. Kenaikan ini menandai adanya tekanan fiskal yang lebih besar untuk mendanai program prioritas.
Lonjakan belanja ini dapat memengaruhi persepsi investor terkait stabilitas nilai tukar, apalagi pembayaran utang pemerintah juga membengkak. Di sisi lain, pendapatan negara yang belum sepenuhnya pasti turut meningkatkan ketidakpastian bagi pasar. Analisis ini disusun oleh Cetro Trading Insight.
Ibrahim memproyeksikan rupiah akan tetap bergerak di kisaran Rp16.770 hingga Rp16.960 per dolar AS dalam sepekan mendatang, mencerminkan keseimbangan antara sentimen global dan dinamika fiskal domestik. Rentang tersebut menunjukkan volatilitas yang terbatas meski arah jangka pendek belum pasti. Para pelaku pasar disarankan memantau perkembangan APBN 2026 dan data ekonomi utama untuk mengantisipasi perubahan prospek.
Mengamati dinamika saat ini, pasar menimbang peluang pemulihan ekonomi global terhadap risiko tekanan fiskal domestik. Sentimen ini membantu rupiah tetap berada dalam kisaran terbatas meski volatilitas bisa muncul setelah rilis data ekonomi utama. Dalam pandangan Cetro Trading Insight, pergerakan rupiah menunjukkan bahwa investor lebih banyak menilai risiko fiskal terhadap arah kurs.
Untuk trader yang fokus pada pasangan USD/IDR, faktor utama tetap pada bagaimana data AS mempengaruhi arus modal dan ekspektasi suku bunga. Dengan mempertimbangkan APBN 2026, volatilitas bisa meningkat jika kebijakan fiskal berdampak pada defisit atau inflasi. Pengamatan ini menjadi bagian dari analisis kami di Cetro Trading Insight.