DATA, saham emiten layanan telekomunikasi yang terafiliasi Grup Djarum, berada di ujung grafik pekan ini; penurunan beruntun membuatnya menjadi top losers dan isu utama di lantai bursa. Harga turun secara tajam hingga menyentuh batas auto rejection bawah ARB berkali-kali, membangun nuansa volatilitas yang mengguncang pelaku pasar. Investor pun dihadapkan pada realita bahwa likuiditas saham DATA sedang tertekan.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), DATA merosot 39,94% hingga Rp2.180 per lembar pada Kamis, 2 April 2026, menjadikannya saham yang paling buruk pekan ini. Tekanan jual berlanjut selama enam hari bursa, bahkan tiga hari beruntun menyentuh batas ARB bawah. Kondisi ini mencerminkan tekanan jual yang kuat pada saham mid cap di sektor telekomunikasi.
Kondisi ini juga mencerminkan dinamika harga yang berulang kali berada di wilayah teknikal lemah, meskipun secara fundamental DATA menunjukkan tren positif dalam pendapatan dan laba 2025. Namun, para analis menyoroti bahwa sinyal teknikal saat ini masih dominan menekan pergerakan harga DATA.
Analisa teknikal menunjukkan DATA berada dalam fase downtrend, sehingga rekomendasinya cenderung wait and see. Nafan Aji Gusta Utama, Senior Market Analyst di Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menilai bahwa level support kritis berada di sekitar 1.665, yang bisa menjadi titik balik jika pasar berbalik arah.
Secara fundamental, rasio price to earnings (P/E) DATA sekitar 27,5 kali, melampaui rata-rata industri yang berada di kisaran 16 kali. Rasio price-to-book value (PBV) juga tinggi, menunjukkan valuasi saham yang relatif mahal meski kinerja pendapatan dan laba membaik secara yoy.
Selain faktor teknikal dan valuasi, sentimen pasar Indonesia yang volatil turut menekan pergerakan saham, terutama di kelompok mid cap dan small cap. Kondisi ini menambah beban pada DATA dan menambah probabilitas volatilitas lebih lanjut di masa mendatang.
Dari sisi laporan keuangan konsolidasi per 31 Desember 2025, DATA mencatat pendapatan naik menjadi Rp430,35 miliar dari Rp348,19 miliar tahun sebelumnya, tumbuh sekitar 23 persen. Laba bruto meningkat menjadi Rp319,56 miliar, didorong oleh peningkatan pendapatan meski beban operasional juga meningkat.
Secara operasional, laba usaha DATA tercatat Rp168,28 miliar, naik dari Rp146,02 miliar pada 2024. Namun laba sebelum pajak turun menjadi Rp139,21 miliar akibat lonjakan beban keuangan menjadi Rp15,27 miliar dari Rp3,01 miliar pada 2024.
Meski laba tahun berjalan tumbuh menjadi Rp105,62 miliar dibandingkan Rp99,44 miliar pada 2024, investor disarankan berhati-hati karena profil risiko yang masih tinggi dan volatilitas pasar. Sebagai bagian dari Cetro Trading Insight, kami menekankan bahwa keputusan investasi tetap di tangan setiap investor dan disesuaikan dengan profil risiko masing-masing.