DBS: Imbal Hasil 10Y AS Dekat 4%, Ekonomi Goldilocks, dan Jalur Pemangkasan Fed di 2H 2026

DBS: Imbal Hasil 10Y AS Dekat 4%, Ekonomi Goldilocks, dan Jalur Pemangkasan Fed di 2H 2026

trading sekarang

Artikel ini disusun oleh Cetro Trading Insight dan merangkum pandangan DBS Group Research mengenai arah US rates. Ekonomi pasar menghadapi periode volatilitas dengan penilaian ulang terhadap arah suku bunga USD. Imbal hasil 10 tahun AS mendekati 4%, sebuah level yang menjadi fokus pasar menjelang pernyataan kebijakan lebih lanjut. Narasi ini mencerminkan volatilitas yang sedang berlangsung dan bagaimana pasar mencoba menyaring sinyal dari data yang beragam.

Pembaca juga diingatkan bahwa dinamika pasar saat ini dipengaruhi oleh data asing yang membingungkan antara kekuatan pasar tenaga kerja dan tekanan inflasi yang relatif lunak. Dalam konteks ini, pengaruh pergerakan imbal hasil pemerintah AS menambah kompleksitas bagi para investor yang menimbang risiko dan peluang jangka menengah. Secara umum, volatilitas pasar mendorong investor untuk meninjau kembali asumsi terkait arah dolar dan kebijakan moneter.

Gambaran makro yang diulas DBS menyoroti kondisi ekonomi AS yang kerap disebut sebagai Goldilocks: pertumbuhan cukup kuat, lapangan pekerjaan tetap solid, tetapi inflasi menunjukkan pelunakan. Faktor-faktor ini berkontribusi pada pergeseran ekspektasi pasar terhadap respons kebijakan fiskal dan moneter di masa mendatang, sambil terus memantau kinerja data ekonomi utama. Dalam konteks Cetro Trading Insight, dinamika ini penting bagi penjabaran peluang dan risiko bagi investor tingkat menengah.

DBS memperbarui ekspektasinya terkait kebijakan Fed, dengan prospek dua pemotongan suku bunga 25 basis poin (bps) pada 3Q dan 4Q 2026, menghasilkan tingkat terminal sekitar 3,25%. Pernyataan ini menekankan bahwa jalur pemangkasan bergantung pada bagaimana pasar tenaga kerja berkembang serta bagaimana inflasi bergerak ke arah kelemahan berkelanjutan. Ketidakpastian politik juga disebut sebagai faktor yang bisa mempengaruhi jalur kebijakan.

Analisis tersebut menekankan bahwa jalur ini bersifat kondisional: jika tenaga kerja tetap moderat dan inflasi menunjukkan pelemahan berkelanjutan, pemotongan lebih lanjut bisa terealisasi sesuai skema 3Q dan 4Q. Namun, jika data tenaga kerja kuat atau inflasi kembali menguat, tekanan untuk menahan atau menunda pemotongan bisa meningkat. Kuncinya adalah bagaimana data ekonomi selanjutnya membentuk ekspektasi pasar terhadap kebijakan FED.

Takeaway pentingnya adalah bahwa data tenaga kerja menjadi penentu utama urgensi pemangkasan. Dengan demikian, jika pasar kerja kuat, FED cenderung menahan langkah di fase berikutnya; jika melemah, jadwal pemangkasan bisa dipercepat atau lebih agresif tergantung pada dinamika inflasi. Pelaku pasar dianjurkan memantau rilis data pekerjaan dan inflasi berikutnya untuk mengukur risiko pergerakan dolar dan imbal hasil di masa mendatang.

broker terbaik indonesia