
Analisis terbaru Brown Brothers Harriman (BBH) oleh analis Elias Haddad menunjukkan bahwa upaya pemerintah Amerika Serikat untuk mengecilkan defisit perdagangan secara struktural berpotensi memberikan dampak negatif pada dolar melalui mekanisme neraca pembayaran. Pendekatan ini dipandang mengurangi arus dolar yang keluar ke luar negeri dan menurunkan peluang dana tersebut diputar kembali ke sekuritas AS. Dalam konteks ini, uraian BBH menekankan bahwa efek struktural ini membatasi permintaan dolar di pasar global. Menurut Cetro Trading Insight, rangka kerja neraca pembayaran menjadi kerangka penting yang membatasi kurs dolar secara luas.
Namun Haddad menegaskan bahwa penurunan nilai dolar dalam jangka pendek masih terbatas. Stabilitas pasar tenaga kerja AS menjadi kunci, karena menjaga kemungkinan kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve tetap terbuka. Kondisi ini menciptakan lingkungan dimana volatilitas dolar tidak meningkat tajam meski ada tekanan defisit perdagangan. Para pelaku pasar tetap bersiap menghadapi data penting yang bisa mengubah persepsi kebijakan.
Data utama yang dipantau antara lain laporan non-farm payrolls bulan April dan survei sentimen University of Michigan. Kedua rilis tersebut dinilai sebagai penentu ekspektasi pasar terhadap langkah kebijakan Fed. Secara konsensus, sekarang diperkirakan penambahan pekerjaan sekitar 65.000 di bulan itu, dengan laju pengangguran sekitar 4,3 persen. Angka tersebut menandakan dinamika tenaga kerja yang masih stabil meski pertumbuhan ekonomi melambat.
Melihat tren pekerjaan dalam tiga bulan hingga Maret, pertumbuhan pekerjaan rata-rata berada di sekitar 68 ribu per bulan. Angka ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja tetap berada pada level yang cukup untuk menjaga tingkat pengangguran stabil meski pertumbuhan jumlah pekerjaan melambat. Kondisi itu mendukung pandangan bahwa tekanan pada kebijakan moneter bisa terkontrol dalam jangka pendek.
Studi Federal Reserve juga memberikan gambaran bahwa laju pertumbuhan tenaga kerja yang “breakeven” diperkirakan sekitar 18 ribu per bulan pada 2026, lebih rendah dari kebiasaan historis. Angka ini menambah konteks bagi para investor tentang bagaimana inflasi akan berkembang dan bagaimana kebijakan moneter bisa disesuaikan. Perubahan kecil dalam laju pekerjaan dapat mengubah ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga di masa depan.
Di sisi data ekspektasi, survei May University of Michigan tentang sentimen konsumen diperkirakan akan dirilis, menambah fokus pada bagaimana konsumen melihat kondisi ekonomi. Sementara itu, survei New York Fed tentang ekspektasi inflasi jangka panjang menunjukkan bahwa rata-rata 12 bulan ekspektasi inflasi tetap terkendali. Temuan-temuan ini memberi sinyal bahwa tekanan hawkish dari sisi inflasi belum mengambil alih arah kebijakan secara langsung.
Analisis menunjukkan bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang tetap menjadi faktor utama yang dapat menentukan bias kebijakan FOMC. Jika langung terjadi peningkatan, hal itu bisa mendorong kebijakan lebih agresif untuk menekan inflasi. Namun, para analis menekankan perlunya memantau dinamika harga secara berkelanjutan sebelum menarik kesimpulan tentang arah kebijakan.
Hasil survei konsumen New York Fed yang dirilis sebelumnya menunjukkan bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang cenderung berada pada beberapa tahun ke depan yang berada di sekitar rata-rata 12 bulan. Stabilitas seperti ini memberikan landasan bagi pasar untuk menilai risiko inflasi tanpa reaksi terlalu kuat. Meski begitu, pergeseran kecil dalam ekspektasi bisa berdampak pada harga aset dan biaya pinjaman.
Secara keseluruhan, temuan-temuan ini mengindikasikan bahwa meski ada tekanan eksternal, dolar tidak diperkirakan melemah secara drastis karena data tenaga kerja dan inflasi yang berjalan sejajar. Pasar menilai bahwa Federal Reserve akan menjaga keseimbangan antara menahan inflasi dan menjaga pertumbuhan pekerjaan. Keputusan kebijakan selanjutnya akan sangat bergantung pada kejutan data harga dan dinamika permintaan domestik.