
Dalam laporan yang disusun oleh Cetro Trading Insight, Deutsche Bank melalui Jim Reid dan timnya menguraikan skenario baseline untuk pasar minyak. Analisis ini menilai bahwa perjanjian antara AS dan Iran yang diharapkan terjadi bulan ini bisa membuka kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Dengan pembukaan tersebut, Brent diproyeksikan turun menuju sekitar $86 per barel pada kuartal keempat 2026 jika kesepakatan terealisasi.
Mereka memperingatkan bahwa penutupan Hormuz yang berkepanjangan akan mendorong Brent hingga sekitar $150 per barel. Risiko ini berpotensi menyebabkan stagflasi global dan memperlambat laju pertumbuhan di Eropa, meskipun dampak pada PDB global relatif moderat. Kebijakan moneter dan fiskal global juga akan diuji oleh tekanan harga minyak yang tinggi.
Dalam konteks teknis, laporan ini mencatat bahwa penyesuaian roll bulanan dari Juli ke Agustus menandai lonjakan harian terbesar untuk kontrak front-end, sekitar +4,24% dalam empat minggu terakhir. Pergerakan tersebut mencerminkan respons pasar terhadap perubahan kurasi harga dan ekspektasi volatilitas geopolitik. Para pelaku pasar tetap waspada terhadap dinamika pasokan yang bisa berubah secara cepat.
Inti narasi Hormuz adalah bahwa penyelesaian damai memungkinkan pelayaran melalui Selat Hormuz untuk dilanjutkan, sehingga pasokan minyak lebih kencang dan tekanan harga menurun. Dalam skenario baseline, Brent berpotensi turun ke kisaran $86/bbl pada kuartal keempat 2026 jika kesepakatan tercapai. Skenario alternatif yang lebih volatil menempatkan risiko pada harga minyak yang lebih tinggi jika pengendalian koridor pelayaran tetap ketat.
Di sisi dinamika harga, narasi ini menyoroti bagaimana pasar merespon penyesuaian roll berkelanjutan: perubahan komposisi kontrak berjangka menguatkan pergerakan harga di front-end. Lonjakan harga terkait roll tersebut menunjukkan bahwa pasar menilai peluang perubahan tingkat biaya pembiayaan dan likuiditas.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik menghadirkan premi risiko yang bisa memicu volatilitas lebih lanjut, sehingga pelaku pasar perlu mengelola risiko dengan cermat.
Secara makro, jika Hormuz dibuka, dampak terhadap pertumbuhan global relatif bisa positif melalui pemulihan permintaan minyak; namun jika penutupan berlanjut, risiko stagflasi dan perlambatan global meningkat.
Analisis sinyal trading berdasarkan isi artikel menyimpulkan bahwa informasi ini bersifat fundamental dan skenario naratif; tidak ada instrumen trading spesifik yang direkomendasikan pada saat ini untuk pair UKOIL.
Rencana manajemen risiko menyertakan rasio risk-reward minimal 1:1.5 jika ada rekomendasi perdagangan. Karena tidak ada sinyal yang jelas saat ini, disarankan para pelaku pasar memantau perubahan geopolitik dan harga secara berkala, serta menyesuaikan posisi sesuai kenyataan pasar.