Para ekonom Deutsche Bank memperkirakan CPI headline AS akan melonjak pada laporan Maret. Mereka menilai CPI bulanan bisa mencapai 0,95 persen, tertinggi sejak Juni 2022. Proyeksi itu akan mendorong laju CPI tahunan kembali ke sekitar 3,4 persen. Sementara CPI inti diperkirakan naik lebih terbatas, dengan tekanan inti berada di atas target 2 persen Fed.
Kenaikan harga bensin menjadi faktor utama di belakang proyeksi tersebut. Meskipun harga minyak telah turun sejak negosiasi gencatan senjata, kekhawatiran inflasi tetap tinggi. Data CPI terbaru akan menjadi jendela pertama yang mencakup periode sejak konflik Iran dimulai pada 28 Februari, sehingga angka energi terlihat jelas dalam data.
Kalau angka tersebut terwujud, hal ini akan menandai lonjakan tertinggi bulanan sejak 2022 dan membantu mendorong inflasi inti mengikuti rencana menuju 2 persen. Proyeksi CPI inti bulanan bisa naik sekitar 0,33 persen, dengan laju tahunan mendekati 2,7 persen. Analisis ini menekankan bahwa data CPI akan menjadi pusat perhatian pasar finansial menjelang rilis.
Guncangan harga energi meningkatkan risiko inflasi headline kembali lebih tinggi pada bulan Maret. Proyeksi CPI menunjukkan bobot energi yang kuat dan berkontribusi pada pembacaan keseluruhan. Lonjakan ini menambah tekanan pada kebijakan moneter Federal Reserve yang bertujuan menurunkan inflasi menuju 2 persen.
Inflasi inti, yang tidak menyertakan harga energi dan pangan, tampaknya akan naik secara moderat. Perkiraan 0,33 persen untuk CPI inti menandakan momentum yang tetap di atas target 2 persen. Hal ini menekankan bahwa lingkungan inflasi tetap menantang bagi kebijakan suku bunga.
Sinyal pasar akan bergantung pada bagaimana data CPI mencerminkan dinamika harga energi dan layanan. Jika pembacaan lebih keras dari konsensus, mata uang dolar bisa menguat dan obligasi menyesuaikan imbal hasil. Skenario sebaliknya juga mungkin terjadi jika data menunjukkan pendinginan, memicu volatilitas di pasar valuta asing.
Laporan ini diproduksi oleh Cetro Trading Insight, bagian analitik dari media kami, dan CPI AS berpotensi menggerakkan pasar secara luas. Investor perlu memahami bahwa angka inflasi dapat memicu pergerakan liar pada dolar dan imbal hasil. Analisis ini menekankan pentingnya skenario harga energi dalam perhitungan klaim inflasi.
Skenario utama: CPI lebih tinggi mendorong dolar menguat sementara volatilitas di sektor energi bisa memperparah pergerakan mata uang. Trader sebaiknya memantau komentar bank sentral, data pekerjaan, dan prioritas risk management. Pergerakan harga jangka pendek bisa cukup volatile.
Dari sisi manajemen risiko, rekomendasi kami adalah menjaga rasio risiko-imbalan minimal 1:1.5 dan tidak menumpuk posisi pada satu arah menjelang rilis.