Bob Savage, Kepala Strategi Makro Pasar BNY Mellon, menyoroti dislokasi ekstrem di pasar minyak global. Harga fisik seperti North Sea Forties Blend mendekati 147 per barel dan Dated Brent melonjak, sementara berjangka Brent terlihat relatif lebih rendah. Ketidaksesuaian antara harga fisik dan harga berjangka menunjukkan tekanan pasokan yang sangat besar di pasar minyak.
Disrupsi utama berasal dari kendali Iran atas Selat Hormuz, membuat aliran minyak turun menjadi sekitar 8% dari tingkat normal. Jalur ini biasanya menampung sekitar 20% pasokan minyak global, sehingga gangguan seperti ini memberi tekanan besar pada pasar fisik. Kondisi ini meningkatkan volatilitas dan ketegangan harga di berbagai wilayah, terutama di Asia yang sangat bergantung pada pasokan Timur Tengah.
Kondisi ini diperparah oleh sentimen pasar yang menilai risiko pasokan yang berkelanjutan. Faktor geopolitik dan fluktuasi aliran kapal mendorong perbedaan antara harga fisik dan berjangka, sehingga investor melihat risiko kejutan pasokan sebagai risiko utama untuk bulan-bulan mendatang.
Dinamika geopolitik tetap menjadi fokus utama menjelang pembicaraan akhir pekan di Pakistan mengenai solusi bagi pelayaran di Hormuz dan kemungkinan perluasan gencatan senjata. Dalam diskusi itu, rencana biaya tol yang diajukan Iran menjadi topik penting dan berpotensi mengubah aliran biaya transportasi minyak.
Selain itu, Saudi Arabia melaporkan penurunan kapasitas produksi sekitar 600.000 barel per hari dan gangguan jalur pipa yang mengurangi sekitar 700.000/bd, memperberat kekhawatiran kekurangan pasokan. Pengetatan pasokan di kawasan itu meningkatkan tekanan pada harga, terutama untuk pasar Asia yang sangat bergantung pada pasokan minyak Timur Tengah.
Secara pasar, perbedaan antara harga fisik Brent dan berjangka semakin kuat. Brent CFDs melampaui level $30 dan beberapa aktivitas perdagangan sempat terhenti, sementara WTI menunjukkan penurunan sekitar 10% sepanjang minggu. Ketidakselarasan ini mencerminkan dinamika pasar yang sedang goyah antara fisik dan spekulasi berjangka.
Tekanan dari pasokan fisik mendorong Brent North Sea diperdagangkan dengan premi relatif terhadap Brent berjangka, mencerminkan kepadatan pasokan dan kompleksitas geopolitik. Kondisi ini meningkatkan volatilitas harga dan menambah tekanan pada konsumen, dengan risiko lonjakan harga jika aliran di Hormuz terganggu lebih lama.
Opsi resolusi di Hormuz dan potensi biaya tol bisa menjadi katalis untuk menstabilkan pasar jika negosiasi berjalan lancar. Namun, jika ketegangan meningkat, respons pasar bisa bersifat agresif, dengan rekor volatilitas harian yang memungkinkan pergerakan tajam dalam waktu singkat.
Pelaku pasar disarankan memantau perkembangan geopolitik, rencana transportasi minyak, serta dinamika produksi negara produsen utama. Mengingat volatilitas tinggi pada pasar fisik minyak, diversifikasi risiko dan penentuan toleransi risiko menjadi kunci untuk mengelola eksposur dalam beberapa bulan ke depan.