
DOID melaporkan rugi bersih USD24 juta untuk Q1-2026, turun signifikan dibandingkan rugi USD70 juta pada Q1-2025. Dalam berita emas hari ini, para investor menimbang bahwa pemulihan EBITDA telah mulai terlihat meski pendapatan masih turun secara YoY. Analisis Cetro Trading Insight menilai fondasi perbaikan ini berasal dari upaya operasional yang terukur dan rebalancing aset yang dilakukan manajemen.
Faktor non-operasional memberi dukungan penting pada hasil kuartal ini, antara lain USD12 juta keuntungan dari optimisasi portofolio ACG lewat penjualan lahan, penurunan kerugian investasi dari 29Metals sebesar USD12 juta, serta tidak berulangnya pencadangan piutang di Australia sebesar USD4 juta. Array langkah-langkah yang ditempuh oleh grup menunjukkan fokus pada efisiensi aset dan menjaga likuiditas untuk menguatkan EBITDA. Perbaikan disiplin biaya dan produktivitas menjadi pilar utama dalam eksekusi rencana 2026.
EBITDA melonjak menjadi USD28 juta dari USD14 juta YoY, dengan margin EBITDA meningkat menjadi 11% dari 5% pada Q1-2025. Kenaikan ini terjadi meskipun pendapatan turun sekitar 10%, menandakan perbaikan efisiensi operasional yang mendasar. Keterangan manajemen menyebut fondasi untuk ekspansi kinerja yang lebih besar di kuartal berikutnya dengan fokus pada efisiensi, keandalan alat, dan pengurangan biaya tidak esensial.
Di operasional Indonesia dan Australia, jam non-produktif turun 14% sejalan dengan perbaikan kondisi cuaca serta upaya mengatasi hambatan di area disposal dan jalur angkut. Dalam berita emas hari ini, volume bulanan pengupasan lapisan tanah penutup meningkat dari 26,4 MBCM pada Februari menjadi 34,3 MBCM pada April, sementara produksi batu bara mencapai 5,9 MT pada April, di atas rata-rata kuartal I-2026. Kondisi ini menggambarkan momentum operasional yang kembali mendukung output.
Average Selling Price (ASP) untuk kontraktor pertambangan naik sekitar 3% YoY, didorong oleh adanya kontrak rise-and-fall yang lebih dominan dan skema tarif bertingkat terkait harga batu bara. Biaya unit per BCM turun 1% YoY, mengindikasikan disiplin biaya berkelanjutan. Selain itu, biaya tenaga kerja per BCM turun 4% YoY berkat penempatan operator yang lebih efisien, meskipun biaya bahan bakar per BCM naik 3% karena lonjakan harga energi global.
Belanja modal sepanjang kuartal I-2026 tercatat USD20 juta untuk menjaga keandalan armada dan kelangsungan operasional, sementara arus kas bebas berbalik positif menjadi USD2 juta. Poin utama dari perbaikan ini adalah penerimaan USD17 juta dari penjualan lahan dalam kerangka optimisasi portofolio ACG, yang memperkuat neraca dan kapasitas investasi di waktu yang tepat. Tinjauan ini juga menampilkan penguatan EBITDA sebagai landasan untuk rencana ekspansi yang lebih terukur.
| Indikator | Nilai | Catatan |
|---|---|---|
| Pendapatan | USD 318 juta | turun 10% YoY |
| EBITDA | USD 28 juta | Margin 11% |
| Free Cash Flow | USD 2 juta | positif |
| Belanja Modal | USD 20 juta | untuk keandalan armada |
| Produksi Batubara | 5.9 MT | April |
Tekanan kuartal kedua hingga ketiga diperkirakan relatif menenangkan seiring masuknya periode operasional yang lebih kering. Kinerja saat ini memberikan landasan bagi rencana aksi yang lebih terfokus pada peningkatan kapasitas produksi, perbaikan ritme pekerjaan, dan penguatan disiplin operasional. Manajemen menekankan bahwa transisi menuju tim subject-matter expert terpusat akan memperdalam keahlian di semua lini.
Dalam konteks strategi jangka menengah, eksekusi di atas memberikan peluang bagi DOID untuk menjaga momentum meskipun volume produksi bisa lebih rendah dibandingkan periode lalu. Berita emas hari ini menekankan pentingnya menjaga kontrol biaya sambil memanfaatkan kenaikan ASP dan efisiensi operasional untuk memperluas margin. Perhimpunan inisiatif beragam akan menjadi pendorong utama kinerja sepanjang musim kering yang diharapkan mendukung pertumbuhan EBITDA lebih lanjut.
Rencana ke depan mencakup sejumlah inisiatif termasuk peningkatan alat, perbaikan jadwal, dan alokasi SDM yang lebih efisien. Array langkah-langkah tersebut dirancang untuk menjaga momentum, menurunkan biaya per unit, dan meningkatkan EBITDA sepanjang 2026. Dengan fokus pada musim kering, DOID berharap mempertahankan tren positif ini dan memperkuat posisi di pasar saham Indonesia.