TD Securities mencatat dolar AS berpotensi kembali berfungsi sebagai safe haven karena sifat kejutan pasar saat ini, meski tidak lagi tanpa upaya. Analisis Jayati Bharadwaj dan Linda Cheng menyoroti adanya potensi upside USD dalam jangka pendek yang didorong premia risiko pada minyak mentah. Ketidakpastian geopolitik dan volatilitas energi memperkuat peran dolar sebagai instrumen perlindungan nilai bagi investor di tengah gejolak pasar.
Namun pandangan jangka menengah tetap hati-hati; mereka menegaskan adanya bias bearish terhadap USD untuk 2026 saat pertumbuhan AS diperkirakan kehilangan keunggulan dan daya tarik safe haven menurun. Risiko pasar energi dan dinamika minyak menjadi faktor penting yang membentuk ekspektasi arah dolar, meski eskalasi konflik Iran diperkirakan akan terbatas. Investor juga menilai bahwa perubahan sentimen dapat terjadi jika kondisi geopolitik berubah.
Dalam jangka panjang (5–10 tahun), konflik tersebut diperkirakan memperkuat nilai dolar melalui kemandirian energi AS yang lebih besar. Meski demikian, narasi bearish untuk 2026 tetap relevan karena pertumbuhan AS yang lebih lemah dan permintaan safe haven yang menyusut. Secara keseluruhan, dinamika energi, geopolitik, dan kebijakan fiskal ikut membentuk arah dolar dalam dekade mendatang.
Analisis ini menilai bahwa upside USD bisa bertahan pada jangka pendek asalkan premia risiko di minyak mentah tetap tinggi. Pergerakan harga minyak yang volatil menjadi pendorong utama ekspektasi dolar, mengingat pola yang terlihat selama Juni 2025. Pasar juga memantau respons terhadap dinamika Iran dan dukungan AS yang dapat membatasi eskalasi konfrontasi.
Karakter risiko ini menjadikan dolar relevan sebagai pelindung nilai bagi investor yang khawatir dengan gejolak pasar. Meski demikian, kebijakan fiskal AS dan rencana pertumbuhan bisa menekan tingkat premium risiko di masa mendatang. Karena itu posisi dolar dapat menyesuaikan arah sesuai pembaruan geopolitik dan data ekonomi.
Secara jangka panjang, ketahanan energi AS dan independensi energi dipandang sebagai faktor penguat dolar. Seiring waktu, perubahan ini bisa meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar relatif terhadap mata uang lain karena biaya energi dan perdagangan internasional. Kabar terbaru menunjukkan bahwa eskalasi konflik juga menjadi penentu utama arah dolar pada periode 5–10 tahun.
Analisis ini menyoroti hubungan antara kebijakan AS, pertumbuhan ekonomi, dan permintaan safe haven. Daya tarik dolar sebagai pelindung nilai dipengaruhi oleh potensi penurunan keunggulan pertumbuhan AS serta perubahan dinamika perdagangan. Investasi pada energi dan kebijakan luar negeri turut membentuk pola permintaan dolar.
Selain itu, risiko geopolitik seperti konflik Iran dapat menciptakan premi risiko tambahan yang mendongkrak dolar dalam jangka pendek. Namun, pembatasan eskalasi pasar juga menahan lonjakan ekstrem karena AS berada di tahun pemilihan tengah. Investor menimbang kepastian kebijakan dan reaksi pasar dalam menentukan arah dolar.
Secara umum, narasi ini menekankan transisi antara risiko tinggi dan peluang perlindungan nilai. Analisis ini menggabungkan faktor fundamental dengan dinamika teknis, meskipun penilaian utama tetap bergantung pada perkembangan geopolitik. Cetro Trading Insight menyarankan pelaku pasar memantau sentimen energi, pertumbuhan AS, serta eskalasi Iran sebagai indikator utama arah dolar.