
Pertumbuhan dolar AS belakangan ini didorong oleh laporan tenaga kerja yang kuat serta ketidakpastian geopolitik yang membayangi pasar. Data klaim pengangguran untuk minggu yang berakhir pada 18 Juli menunjukkan angka yang lebih rendah dari perkiraan, meneguhkan pendapat bahwa kebijakan moneter ketat bisa bertahan lebih lama. Hal ini memberikan dukungan kepada Greenback dan menekan aset berisiko.
Selain itu, faktor geopolitik menambah volatilitas pasar. Pernyataan Presiden AS yang menunjuk pada kemungkinan operasi militer terhadap Iran menambah kekhawatiran terhadap stabilitas rantai pasokan energi di wilayah tersebut. Sentimen ini turut memperkuat permintaan terhadap aset lindung nilai dan mendorong pergeseran likuiditas ke dolar.
Di sisi energi, harga minyak melaju naik setelah serangan terhadap tanker Saudi di Jalur Red Sea yang meningkatkan risiko gangguan pasokan. Ketakutan akan gangguan pada Bab el-Mandeb dan Hormuz memperkuat tekanan terhadap harga energi global serta memengaruhi ekspektasi inflasi dan kebijakan moneter yang sedang berjalan.
Indeks dolar, DXY, naik sekitar 0,3 persen dan berada di atas level 101,40, didorong oleh imbal hasil treasury yang lebih tinggi serta ketidakpastian geopolitik. Pasangan utama seperti EURUSD berada di sekitar 1,1380, sementara USDJPY melaju menuju 163,85, menunjukkan perbedaan kebijakan moneter antara dua ekonomi utama dunia.
Di sisi lain, AUDUSD tertekan mendekati 0,6970 meski data pekerjaan Australia lebih positif dari ekspektasi. Surplus energi dan risiko geopolitik juga memberikan dampak pada harga emas dan minyak; emas turun sekitar 2 persen menuju sekitar 4050, sementara WTI Oil melesat ke sekitar 92 dolar per barel karena kekhawatiran pasokan global.
Dalam konteks kebijakan, ECB mempertahankan tiga suku bunga utama tanpa perubahan namun tetap data dependent dan membuka kemungkinan pengetatan lebih lanjut jika tekanan inflasi berbasis energi berlanjut. Pasar menilai bahwa aksi moneter global akan tetap saling terkait dengan dinamika harga energi dan pertumbuhan ekonomi, sehingga volatilitas bisa berlanjut pada beberapa aset utama.
Pengamatan pasar Jumat mengandalkan kalender ekonomi yang mencakup kepercayaan konsumen Jerman GfK, PMIs awal Prancis, Jerman, dan zona euro, serta rilis PMIs AS yang diduga melanjutkan tren perubahan tempo aktivasi sektor manufaktur dan layanan. Investor juga menunggu data penjualan ritel UK dan PMI Global, yang akan membantu menilai arah kebijakan bank sentral besar sesegera mungkin.
Kebijakan Fed tetap menjadi kunci, dengan fokus pada bagaimana data inflasi dan tenaga kerja akan mempengaruhi prospek suku bunga hingga akhir tahun. Investor disarankan untuk memperhatikan perubahan risiko geopolitik dan dinamika pasar energi, sambil menjaga manajemen risiko yang ketat. Secara umum, rekomendasi untuk trader adalah memahami level support dan resistance, serta mengatur ekspektasi rasio risiko terhadap imbalan minimal 1:1,5 sesuai dengan profil risiko.
Menurut Cetro Trading Insight, pergerakan dolar yang kuat dapat berlanjut jika ketidakpastian geopolitik berlanjut dan data ekonomi tetap menunjukkan tekanan inflasi. Strategi trading yang disarankan adalah fokus pada peluang jangka pendek dengan profil risiko terkelola, sambil menunggu konfirmasi arah pasar melalui rilis data penting berikutnya. Dengan demikian, posisi yang diambil perlu disesuaikan dengan dinamika pasar yang terus berubah dan komentar kebijakan dari bank sentral utama.