
Indeks Dolar AS (DXY) terpantau bergerak stabil dan cenderung flat di atas level psikologis 99.00 pada perdagangan hari ini. Pergerakan yang sangat sempit ini mencerminkan sikap hati-hati para pelaku pasar menjelang pidato penting Ketua Federal Reserve di simposium ekonomi tahunan Jackson Hole. DXY saat ini diperdagangkan sekitar 2.6% di bawah level tertinggi bulan Juni yang sempat menyentuh angka 102.00.
Secara teknikal, posisi Dolar AS saat ini berada di bawah tekanan dua indikator rata-rata bergerak utama. Exponential Moving Average (EMA) 50 hari terpantau melandai di dekat level 100.00, sementara Simple Moving Average (SMA) 200 hari yang mendatar berada di sekitar level 99.75. Keberadaan kedua indikator ini di atas harga saat ini bertindak sebagai area resistensi kuat yang membatasi potensi pemulihan jangka pendek bagi greenback.
Para analis pasar di Cetro Trading Insight menilai bahwa ketidakmampuan Dolar AS untuk rebound meskipun ada beberapa komentar hawkish dari pejabat The Fed menunjukkan lemahnya minat beli. Konsolidasi di kisaran sempit ini diproyeksikan akan segera berakhir begitu pasar mendapatkan kejelasan arah kebijakan dari rilis data ekonomi AS terbaru serta pernyataan resmi dari Jackson Hole akhir pekan ini.
Kenaikan imbal hasil obligasi AS (yield) belakangan ini ternyata tidak mampu memberikan dorongan penguatan bagi Dolar AS. Fenomena ini cukup aneh karena secara teoritis, imbal hasil yang lebih tinggi seharusnya menarik aliran modal masuk ke dalam mata uang tersebut. Data menunjukkan bahwa sebagian besar kenaikan yield didorong oleh kenaikan imbal hasil riil (real yield) sebesar 63 basis poin dari total 67 basis poin kenaikan pada obligasi tenor 30 tahun.
Kurangnya respon positif dari Dolar AS terhadap kenaikan yield ini disebabkan oleh aksi jual obligasi pemerintah AS oleh pemegang asing utama. Laporan terbaru menunjukkan adanya penurunan kepemilikan asing pada obligasi AS sebesar 72.1 miliar Dolar AS, dengan Jepang dan China menjadi penjual terbesar. Ketika bank sentral asing menjual obligasi AS untuk mengamankan mata uang mereka sendiri, tindakan tersebut secara bersamaan menaikkan yield obligasi dan menekan nilai tukar Dolar AS di pasar global.
Melalui aplikasi trading yang ditayangkan di situs web Cetro, para trader dapat memantau pergerakan korelasi antara pasar obligasi dan pergerakan indeks Dolar secara real-time. Dengan memahami dinamika ini, pelaku pasar dapat mengantisipasi pergerakan harga yang lebih akurat. Situasi struktural ini menunjukkan bahwa kenaikan imbal hasil saat ini lebih merupakan premi risiko yang harus dibayar AS ketimbang daya tarik carry trade yang menguntungkan.
Tekanan bagi Dolar AS tidak hanya datang dari faktor domestik, melainkan juga dari penguatan mata uang utama lainnya yang membentuk keranjang DXY. Euro, yang memegang bobot terbesar hingga 58% dalam indeks DXY, mendapatkan sentimen positif setelah rilis data PMI manufaktur zona euro yang solid di angka 52.1. Di sisi lain, Bank Sentral Eropa (ECB) tetap mempertahankan sikap kebijakan ketat dengan suku bunga deposito di level 2.25% tanpa tanda-tanda pelonggaran agresif.
Sementara itu, Yen Jepang yang memegang bobot sekitar 14% juga terus membayangi pergerakan Dolar AS. Pasar saat ini memperkirakan probabilitas sebesar 80% bahwa Bank of Japan (BoJ) akan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan pertengahan September mendatang. Antisipasi pengetatan moneter dari dua bank sentral utama ini membuat Dolar AS kehilangan daya saing relatifnya secara global.
Kombinasi antara sikap pasif Federal Reserve dan ketahanan ekonomi kawasan Eropa serta Jepang menciptakan hambatan struktural bagi DXY. Pidato Jerome Powell pada hari Jumat diperkirakan tidak akan dengan mudah membalikkan tren pelemahan ini, terutama jika fokus pidato lebih mengarah pada inovasi sistem pembayaran dibanding jalur suku bunga. Secara keseluruhan, prospek DXY tetap bearish selama harga bertahan di bawah zona resistensi 99.75 hingga 100.00.