Indeks Dolar AS (DXY) melemah setelah mencapai level awal pekan, sejalan dengan meningkatnya ketegangan antara AS dan Uni Eropa yang mendorong penghindaran risiko. Para pelaku pasar menilai bahwa risiko politik bisa membatasi aksi imbal balik mata uang utama, sehingga aliran modal beralih menuju aset yang lebih defensif. Secara umum, sentimen risiko membaik secara terbatas meskipun ada faktor-faktor geopolitik yang menjaga volatilitas tetap tinggi.
Dalam konteks teknikal, DXY diperdagangkan sekitar 98,90 pada sesi Asia, menandai penurunan untuk hari kedua berturut-turut. Para analis menilai bahwa pergerakan ini mencerminkan pendinginan permintaan dolar di tengah kekhawatiran mengenai jalur kebijakan moneter. Faktor-faktor global dan faktor risiko geopolitik secara bersama-sama membentuk dinamika relatif beragam untuk dolar di hari-hari mendatang.
Konteks geopolitik mendesak perhatian pasar terhadap langkah-langkah yang diambil UE. Presiden Prancis Emmanuel Macron didorong untuk mengaktifkan apa yang disebut bazooka perdagangan, yang berpotensi membatasi akses AS ke pasar UE atau menerapkan kontrol ekspor. Langkah ini menambah ketidakpastian dalam aliran perdagangan lintas benua yang pada akhirnya bisa mempengaruhi ekspektasi kebijakan moneter dan risiko mata uang.
Di sela-sela tensi perdagangan, keluarnya data tenaga kerja AS yang kuat meningkatkan peluang bahwa Federal Reserve akan menyesuaikan jalurnya lebih lambat daripada yang semula diperkirakan. Para investor sebagian besar menunggu konfirmasi bahwa inflasi menuju target 2% akan terjaga secara berkelanjutan. Dalam konteks ini, beberapa lembaga keuangan menyesuaikan proyeksi mereka terkait timing pemotongan suku bunga di tengah dinamika pasar yang berubah-ubah.
Trump menegaskan bahwa tarif sebesar 10% bisa diberlakukan pada sejumlah barang impor dari negara-negara tertentu mulai 1 Februari, jika langkah balasan belum disepakati. UE merespons secara kooperatif dengan rencana meningkatkan upaya mencegah tarif tersebut sambil menyiapkan langkah balasan lainnya. Kehalusan kebijakan dan respons perdagangan menambah volatilitas di pasar mata uang dan memperburuk jalur kebijakan moneter yang sedang diarahkan.
Dalam hal prospek suku bunga, beberapa institusi bank telah menyesuaikan pandangan mereka. Morgan Stanley, misalnya, merevisi proyeksi pemangkasan suku bunga di 2026 menjadi dua langkah yang dimulai pada Juni, alih-alih target awal Januari dan April. Pasar tetap waspada terhadap data tenaga kerja berikutnya yang bisa mengubah sentiment mengenai kapan Fed akan melanjutkan sikap pelonggaran. Investor disarankan memantau rilis data makro berikutnya untuk menilai arah kebijakan dan volatilitas dolar.