Laporan PPI bulan Januari dipantau para pelaku pasar untuk menilai arah kebijakan Federal Reserve. Berdasarkan estimasi, inflasi grosir kemungkinan melambat menjadi 0,3% secara bulanan, turun dari 0,5% pada Desember. Dalam laporan tersebut, indeks dolar DXY bergerak sekitar 97,70 pada jam Asia hari ini, seperti dilaporkan tim Cetro Trading Insight.
Perlambatan laju inflasi grosir berpotensi memberi ruang bagi The Fed untuk lebih berhati-hati dalam pengetatan kebijakan. Pasar akan menimbang apakah peningkatan imbal hasil cenderung melambat atau tetap berjalan di jalurnya. Investor juga memantau sinyal dari pejabat bank sentral untuk melihat langkah selanjutnya dalam kebijakan suku bunga.
Secara umum, data PPI menjadi kompas utama bagi proyeksi ekonomi dan jalur kebijakan moneter. Para pelaku pasar mengkaji dampaknya terhadap likuiditas dolar, arus modal global, dan prospek pertumbuhan ekonomi AS dalam beberapa kuartal mendatang.
Trump mengumumkan rencana mengenakan tarif bea masuk 15% pada impor, menyusul pembatalan rezim tarif timbal balik oleh Mahkamah Agung. Langkah ini menambah ketidakpastian perdagangan dan memberi dampak pada sentimen investor globally. Sinyal kebijakan tersebut berpotensi menahan momentum pertumbuhan internasional dalam beberapa kuartal mendatang.
US Trade Representative menyatakan tarif bisa ditingkatkan menjadi 15% atau lebih untuk beberapa negara dalam beberapa hari ke depan. Risiko eskalasi konflik perdagangan bisa menekan aktivitas ekonomi dan menimbulkan volatilitas pada pasar mata uang. Para pelaku pasar menilai bagaimana respons negara mitra dan bagaimana rantai pasokan global dapat terpengaruh.
Di tengah dinamika tersebut, pelaku pasar memperhatikan bagaimana kebijakan perdagangan AS mempengaruhi arus modal serta aliran investasi. Ketidakpastian ini juga meningkatkan daya tarik dolar sebagai aset safe-haven jika ketegangan meningkat lebih lanjut.
Dalam suasana risiko geopolitik yang tinggi, dolar AS sering diperdagangkan sebagai perlindungan nilai. Ketegangan di wilayah Timur Tengah dan faktor keamanan global mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih aman. Dolar cenderung menjadi komponen utama portofolio ketika risiko meningkat.
Iran menegaskan bahwa pembicaraan yang berlangsung sangat substansif, merinci tuntutan Tehran untuk pelonggaran sanksi dan kerangka kerja untuk mencabut pembatasan. Sementara itu, negosiasi direncanakan kembali dengan pertemuan teknis di Wina pekan depan, menambah dinamika risiko geopolitik bagi pasar keuangan global.
Secara keseluruhan, para investor menilai perkembangan negosiasi langsung di kedua ibu kota dan dampaknya terhadap volatilitas mata uang serta harga aset utama. Laporan ini menekankan bahwa likuiditas dolar bisa tetap tinggi jika ketegangan tidak mereda dalam waktu dekat, meskipun pergerakan bisa berubah dengan cepat seiring rilis data ekonomi dan pernyataan kebijakan.