
Dolar Indeks DXY bergerak di sekitar 101.60 pada Rabu, mendekati puncak satu tahun sebagai pasar menunggu rilis PCE AS untuk Mei pada Kamis pagi waktu EST. Data tersebut menjadi ukuran inflasi favorit Federal Reserve untuk menilai arah kebijakan. Para pelaku pasar juga mempertimbangkan apakah kenaikan harga minyak akibat konflik regional telah menular ke inflasi inti, sehingga volatilitas imbal hasil obligasi AS diperkirakan meningkat setelah publikasinya.
EUR/USD turun menuju level terendah satu tahun di sekitar 1.1360 sebelum akhirnya pulih dari posisi terendah sesi di dekat 1.1325. Meskipun ada tekanan dari data ekonomi, euro mendapat dorongan dari komentar hawkish pejabat ECB. Anggota Dewan Eksekutif ECB Isabel Schnabel menegaskan bahwa lebih banyak kenaikan suku bunga diperlukan untuk membawa inflasi kembali ke target 2 persen, menegaskan bahwa kebijakan tidak segera di-relaks.
GBP/USD melemah dan mendekati level 1.3160 karena ketidakpastian politik di Inggris serta data aktivitas ekonomi yang lebih lemah. Sinyal PMI UK Flash menunjukkan penurunan terhadap level 49.4 untuk komposit dan 48.7 untuk layanan, menandai tekanan berkelanjutan pada sterling. Kondisi ini menambah volatilitas pada perdebatan kebijakan Bank of England dan persepsi pasar terhadap arah suku bunga.
USD/JPY melonjak hingga 161.80, menguatnya dolar AS didorong ekspektasi kehati-hatian terhadap Federal Reserve. Sementara yen Jepang tetap berada dalam level intervensi pasar, para trader mencermati sinyal kebijakan BoJ di tengah gejolak fiskal dan tekanan yen. Pergerakan ini mencerminkan pasar yang cemas terhadap arah suku bunga global dan arus modal yang mengikuti diferensial kebijakan.
AUD/USD turun di bawah 0.6890 setelah inflasi tahunan Australia melambat menjadi 4.0 persen pada Mei dari 4.2 persen di April, lebih rendah dari ekspektasi 4.4 persen. Namun Trimmed Mean Inflation naik menjadi 3.6 persen dari 3.4 persen, menunjukkan adanya komponen harga inti yang tetap kaku. Pasar menantikan data pekerjaan Australia untuk memberi petunjuk tentang kebijakan RBA selanjutnya.
WTI Oil melanjutkan penurunan menuju sekitar 70.00 dolar per barel karena ketegangan di Timur Tengah mereda dan arus perdagangan melalui Selat Hormuz kembali lancar, menurunkan premi risiko pasokan. Harga logam mulia emas juga melemah mendekati 3.980 dolar per ounce karena dolar yang lebih kuat dan ekspektasi tingkat suku bunga lebih tinggi untuk lebih lama. Meskipun demikian, ketidakpastian geopolitik serta permintaan kebijakan dari bank sentral dapat membatasi kerugian lebih lanjut.
Emas slip di bawah ambang 4.000 dolar AS menuju sekitar 3.980 dolar per ounce, tertekan oleh dolar yang lebih kuat dan prospek kebijakan Federal Reserve yang lebih tinggi untuk lebih lama. Pasar menyerap potensi dampak rilis PCE yang mendefinisikan tekanan inflasi inti dan imbal hasil yang lebih dinamis. Walau ada risiko geopolitik yang tetap, permintaan dari bank sentral bisa menjaga harga emas pada level yang relatif stabil.
Di samping itu, pengaruh data ekonomi dan dinamika kebijakan moneter global mendorong volatilitas pada logam mulia. Para trader menilai agar rilis data berikutnya mengungkap gambaran inflasi dan stabilitas ekonomi. Katalis dari geopolitik tetap membayangi, sehingga peluang pergerakan harga emas tetap menarik untuk dipantau.
Jadwal penting yang perlu diperhatikan pekan ini meliputi PCE AS, pertumbuhan PDB, klaim pengangguran awal adalah agenda Kamis, dan CPI Tokyo serta sentimen konsumen Michigan pada Jumat. Perkembangan ini diharapkan memberikan arah baru bagi pasar obligasi, valuta asing, dan komoditas. Cetro Trading Insight akan terus memantau rilis ini untuk menyampaikan update bagi pembaca.