Analisa Chris Turner dari ING menilai terlalu dini untuk mengharapkan pelemahan dolar yang berkelanjutan. Ketegangan di wilayah Timur Tengah menjaga harga energi tetap tinggi dan menjaga permintaan terhadap aset perlindungan tetap relevan. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.
DXY diperkirakan tetap didorong oleh faktor-faktor tersebut dalam kisaran 99.00-100.00 minggu ini. Penutupan lebih lanjut pada kisaran ini akan bergantung pada dinamika geopolitik dan data ekonomi AS. Para analis menilai bahwa momentum tidak cukup besar untuk menarik dolar ke arah turun signifikan dalam waktu dekat.
Inflasi tetap berada di atas target dan kurva pasar uang AS mengisyaratkan tidak ada pelonggaran kebijakan Fed pada 2026. Sinyal pasar kerja juga tidak menunjukkan kelemahan besar yang bisa mendorong pemangkasan suku bunga. Dengan konteks itu, banyak pelaku pasar memilih kehati-hatian sambil memantau perkembangan konflik regional.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjaga harga energi tetap tinggi dan meningkatkan permintaan terhadap dolar sebagai perlindungan nilai. Beberapa negara mulai mengambil langkah pembatasan pasokan energi, mengakibatkan tekanan lebih lanjut pada harga minyak. Hal ini mendukung posisi dolar sebagai aset perlindungan terhadap ketidakpastian pasar.
Di balik dinamika tersebut, Iran menunjukkan leverage ekonomi, sementara AS dan Israel memiliki kekuatan militer. Analisa menunjukkan bahwa tekanan harga energi memberi Iran posisi negosiator yang kuat meski dagang tetap berada di bawah tekanan. Sementara itu, langkah koalisi Barat menjaga stabilitas regional mempengaruhi sentimen risiko global.
Ketidakpastian sanksi dan penutupan Selat Hormuz menambah risiko bagi ekonomi global. Beberapa negara mulai melakukan kebijakan rasioning bahan bakar untuk menjaga ketersediaan energi dan menerapkan langkah guna mengurangi dampak volatilitas harga. Investor lebih banyak menimbang risiko pada aset berisiko dan tetap memperhatikan pergerakan dolar.
Dukungan kebijakan Fed dan dinamika pasar tenaga kerja menjadi fokus utama bagi pergerakan dolar. Fakta bahwa pasar tenaga kerja AS tidak memburuk secara signifikan memberi peluang bagi potensi kenaikan suku bunga di masa depan, meskipun optimisme pelonggaran diperkirakan menurun. Pasar cenderung menyesuaikan posisi sambil memantau arah kebijakan berikutnya.
Investor masih cenderung overweight pada ekuitas, terutama di Eropa dan pasar negara berkembang, sehingga volatilitas dolar tetap menjadi faktor penting. Kondisi ini membuat keputusan perdagangan lebih bergantung pada rilis data ekonomi dan sinyal dari bank sentral. Rilis data pekerjaan AS menjadi kunci untuk penentu arah dolar dalam beberapa minggu ke depan.
Kesimpulan, belum waktunya untuk mengharapkan penurunan besar dolar dalam jangka pendek. Analisis menunjukkan potensi dolar tetap didorong dalam kisaran 99-100 dan pergerakan menuju 100.35 jika momentum terjaga. Untuk pelaku pasar, strategi beli dolar dengan stop dekat dan target di atasnya sejalan dengan risiko dan imbal hasil yang diharapkan.