
Cetro Trading Insight melaporkan bahwa dolar Amerika berpotensi menguat sebagai respon terhadap permintaan safe-haven akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah.
Dolar AS bergerak mendatar di sekitar level 99,2; meskipun sentimen pasar cenderung netral, berita ketegangan regional menambah risiko bagi inflasi dan mendukung pandangan kenaikan imbal hasil jangka menengah.
Laporan Tasnim menunjukkan Iran menghentikan negosiasi tidak langsung dengan Amerika Serikat, menambah peluang eskalasi regional yang lebih luas serta tekanan terhadap arus minyak global, termasuk pada Hormuz.
Rencana Front Perlawanan untuk menutup jalur Hormuz dan mengaktifkan front tambahan di Bab el-Mandeb meningkatkan kekhawatiran pasokan energi dan memperkuat argumen bagi dolar sebagai aset lindung nilai.
Pasar juga menimbang prospek kebijakan moneter AS; indikator pasar mencerminkan probabilitas kenaikan suku bunga dalam Desember sekitar seperlima, menambah tekanan inflasi dan mendukung sikap panduan kebijakan yang lebih ketat.
Ketegangan geopolitik menambah risiko bagi harga komoditas dan pasokan energi, yang pada gilirannya menambah dukungan bagi dolar sebagai perlindungan terhadap volatilitas global.
Seiring berkembangnya negosiasi dan potensi pembukaan kembali jalur Hormuz, investor menilai dampaknya terhadap kebijakan moneter dan sentimen risiko secara keseluruhan.
Perkembangan diplomasi regional, termasuk permintaan Lebanon untuk memperluas gencatan senjata, menambah elemen ketidakpastian yang bisa memengaruhi arus modal ke aset dolar dan aset safe-haven lainnya.
| Faktor | Dampak terhadap DXY |
|---|---|
| Ketegangan Timur Tengah | Meningkatkan permintaan safe-haven terhadap dolar |
| Ekspektasi Fed | Prospek kenaikan suku bunga menambah dukungan pada dolar |