
Indeks dolar AS (DXY) berbalik naik setelah sebelumnya mencoba melemah, berada di sekitar 99.93 pada penutupan saat ini. Level intraday rendah berada di 99.68 menunjukkan volatilitas yang masih tinggi. Pelaku pasar terus menimbang antara kemungkinan kesepakatan AS-Iran dan risiko geopolitik yang kembali menguat.
Sentimen sempat terangkat setelah pernyataan optimis dari pejabat AS mengenai negosiasi yang berada di 'final throes'. Namun dinamika pasar berubah ketika Trump menyatakan Iran menembak jatuh helikopter Apache milik AS, mengingatkan tentang risiko eskalasi.
Harga dolar juga didorong oleh ekspektasi kebijakan moneter yang lebih hawkish dari Federal Reserve, disertai tekanan inflasi energi. Pasar menantikan laporan inflasi AS yang dirilis pada Rabu untuk menilai arah kebijakan. Secara umum, safe-haven tetap menjadi narasi kunci jika ketegangan geopolitik dan inflasi tetap menjadi fokus utama.
Para trader menilai bahwa data inflasi yang lebih panas bisa memperkuat alasan bagi The Fed untuk menjaga sikap tegas dan mungkin menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Di sisi lain, angka inflasi yang lebih lemah bisa menambah ruang bagi bank sentral untuk menunda kenaikan suku bunga.
Pasar kini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga 25 basis poin pada September sekitar 35%, dengan peluang yang lebih tinggi untuk Oktober sekitar 40% dan Desember sekitar 42%, menurut CME FedWatch.
Dolar cenderung diperdagangkan sebagai aset pelindung nilai di tengah risiko geopolitik dan potensi perbaikan inflasi; bagi pelaku pasar, fokus utama adalah rilis CPI May dan bagaimana Federal Reserve meresponsnya. Jika CPI menunjukkan tekanan inflasi yang signifikan, arah dolar diperkirakan menguat lebih lanjut; jika tidak, ada potensi koreksi.