
Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight. Dolar AS terlihat menguat tipis terhadap beberapa mata uang utama, dengan Indeks DXY berada mendekati 98.15 pada jam perdagangan Asia hari Jumat. Keputusan bank sentral AS untuk menahan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75% seperti ekspektasi luas, menjadi faktor utama yang mendorong pergerakan DXY. Investor juga menantikan rilis ISM Manufacturing PMI untuk April sebagai acuan lanjutan.
Powell dan anggota komite menekankan bahwa prospek ekonomi tetap sangat tidak pasti karena dampak konflik di Timur Tengah. Ketidakpastian ini memberi tekanan tambahan pada volatilitas pasar. Meskipun demikian, para pejabat menilai kebijakan berada pada posisi yang tepat untuk menimbang perubahan arah, baik menuju penurunan maupun kenaikan suku bunga, tergantung bagaimana harga minyak bergerak dan dampaknya terhadap pertumbuhan.
Ketegangan di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz meningkatkan permintaan aset safe-haven, termasuk dolar AS, meskipun dinamika data makro terakhir mampu membatasi potensi kenaikan lebih lanjut. Laporan terkait pernyataan kebijakan menambah nuansa kehati-hatian di pasar. Pasar juga mempertimbangkan bagaimana eskalasi geopolitik bisa mempengaruhi inflasi dan prospek pertumbuhan di kuartal- kuartal mendatang.
Laporan BEA menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal pertama 2026 mencapai 2,0% secara tahunan, lebih lemah dibanding ekspektasi sekitar 2,3%. Angka ini menandai perlambatan relatif terhadap pembacaan sebelumnya yang menunjukkan pertumbuhan sebesar 0,5% pada kuartal sebelumnya. Para analis menilai data tersebut menambah tantangan bagi prospek pemulihan jangka pendek.
Data tersebut berasal dari catatan BEA yang menunjukkan dinamika konsumsi dan investasi yang lebih hati-hati. Meskipun ada kontribusi dari belanja rumah tangga dan investasi bisnis, manfaatnya terasa lebih moderat. Pasar menimbang bahwa pelambatan tersebut bisa membatasi tekanan pada DXY jika data lain menunjukan pelemahan serupa di masa mendatang.
Dengan investor menunggu rilis PMI ISM Manufacturing untuk April, fokus pasar akan beralih pada sinyal-sinyal kesehatan sektor manufaktur. Reaksi pasar terhadap data ini dapat membentuk arah harga minyak, imbal hasil obligasi, dan ekspektasi kebijakan moneter. Secara keseluruhan, data GDP Q1 2026 memberi gambaran bahwa momentum pertumbuhan tidak semulus yang diharapkan pasar.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan potensi gangguan aliran minyak menambah risiko bagi pasar keuangan dan mata uang. Penutupan Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran atas pasokan global dan bisa menambah volatilitas harga minyak. Sinyal-sinyal konflik memicu fase perlindungan modal dan dukungan terhadap dolar sebagai aset safe-haven.
Walau data PDB AS memberi gambaran pertumbuhan yang melemah, lingkungan geopolitik tetap menjadi faktor penentu perilaku investor. Kebijakan moneter AS di masa mendatang akan terus dipengaruhi oleh dinamika harga energi dan langkah-langkah fiskal yang diambil untuk mengatasi dampak krisis energi. Pelaku pasar tetap membandingkan risiko geopolitik dengan sinyal inflasi untuk menilai arah dolar dalam beberapa minggu ke depan.
Selain itu, volatilitas harga minyak dapat membentuk ekspektasi pasar terhadap laju suku bunga The Fed. Jika harga minyak tetap tinggi, tekanan pada inflasi inti bisa mempengaruhi keputusan moneter. Namun, risiko geopolitik juga bisa menahan penguatan dolar terlalu jauh meski data ekonomi AS lemah, sehingga arah pasangan terkait tetap tidak pasti dalam jangka pendek.