
Indeks dolar AS (DXY) menguat kembali pada perdagangan Selasa setelah sinyal campur seputar negosiasi AS-Iran menambah kehati-hatian pasar. DXY diperdagangkan sekitar 99.22 setelah sempat turun ke 99.05 di sesi hari ini. Menurut Cetro Trading Insight, ketidakpastian geopolitik ini membuat investor menimbang langkah sebelum mengambil posisi besar di dolar.
Katalis eksternal lain adalah harga minyak yang tetap tinggi, yang memperkuat tekanan inflasi dan meningkatkan ekspektasi hawkish di kalangan bank sentral. Pasar memangkas ekspektasi pemotongan suku bunga Fed untuk tahun ini dan sebagian besar memproyeksikan Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan mendatang. Alat CME FedWatch juga menunjukkan adanya peluang kenaikan suku bunga pada rapat Desember.
Perhatian pasar kini tertuju pada data tenaga kerja AS pekan ini. ADP Employment Change yang dirilis Rabu dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat diperkirakan memberikan petunjuk baru mengenai arah jalur suku bunga Fed. Sementara itu, angka JOLTS yang dirilis sebelumnya menunjukkan lonjakan lowongan kerja menjadi 7.618 juta di April, mengindikasikan pasar tenaga kerja yang tetap kuat meski dinamika ekonomi sedang berubah.
Harga minyak mentah patokan WTI berada di sekitar $91 per barel, setelah sempat menyentuh level rendah sekitar $88. Kenaikan harga minyak sejak agresi geopolitik pada Februari lalu menambah tekanan inflasi di Amerika Serikat dan memperumit upaya Fed untuk menurunkan tekanan harga secara berkelanjutan.
Pembahasan kebijakan moneternya tetap mengarah ke sikap hawkish. Beberapa pejabat bank sentral menegaskan perlunya menjaga kebijakan ketat untuk menahan laju inflasi, meskipun sandaran kenaikan suku bunga di Desember masih bergantung pada perkembangan data. Pasar juga memantau sinyal dari pertemuan Fed dan komentar pejabat regional terkait prospek kebijakan ke depan.
Reaksi pasar terhadap harga minyak dan data inflasi akan membentuk imej jalur suku bunga. Jika inflasi tidak turun secara konsisten, kemungkinan Fed akan mempertahankan nada hawkish meskipun ada tekanan dari pertumbuhan ekonomi. Investor perlu waspada terhadap volatilitas yang dipicu dinamika geopolitik dan perubahan harga energi.
Data tenaga kerja AS pekan ini menjadi fokus utama bagi pelaku pasar. ADP Employment Change yang dirilis Rabu dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat diperkirakan memberikan petunjuk baru tentang kekuatan pasar kerja Amerika. Hasilnya bisa memicu pergeseran ekspektasi terkait jalur kebijakan Federal Reserve.
Lonjakan angka JOLTS April sebelumnya menambah gambaran bahwa pasar kerja tetap solid, meski ada dinamika inflasi. Informasi tersebut bisa membantu menimbang apakah pelaku pasar akan menambah posisi terhadap dolar atau mencari perlindungan di aset lain. Reaksi terhadap data ini bisa terlihat melalui pergerakan imbal hasil dan volatilitas pasar.
Secara garis besar, arah perdagangan akan tergantung pada bagaimana data tenaga kerja mencerminkan daya tahan ekonomi dan tekanan inflasi. Narasi utama tetap menunjukkan potensi kenaikan dolar jika angka-angka menguat, namun risiko volatilitas juga meningkat karena faktor geopolitik dan perubahan harga energi. Dalam skenario bullish terhadap dolar, level TP di sekitar 101.00 melampaui open 99.22, sedangkan stop loss berada di sekitar 98.50 untuk menjaga risiko tetap terkendali.