Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight. Indeks DXY tetap kokoh di sekitar 99.75 seiring gejolak geopolitik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran terus berlanjut. Pasar mata uang global tetap memantau perkembangan di wilayah tersebut sambil menilai risiko eskalasi yang mungkin terjadi.
Iran menolak rencana 15 poin dari Washington dan menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus memenuhi syarat mereka sendiri. Tehran menuntut penghentian hostilities, jaminan terhadap tidak berulangnya konflik, reparasi atas kerugian, gencatan senjata lebih luas, serta pengakuan atas otoritasnya di Selat Hormuz, seperti dilaporkan media terkait. Ketidakpastian negosiasi semakin meningkat seiring pernyataan saling menuduh dari kedua pihak.
Meski AS mengklaim negosiasi masih berlangsung, pejabat Iran beberapa kali membantah adanya pembicaraan terbaru. Laporan menunjukkan bahwa Amerika Serikat sedang menimbang opsi militer terhadap pos-pos strategis Iran, termasuk Kharg Island dan wilayah sekitar Selat Hormuz, sehingga risiko konflik berlarut-larut tetap ada. Sementara itu, lonjakan harga minyak menambah tekanan inflasi dan memberi dukungan tambahan bagi dolar AS di pasar mata uang.
Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong imbal hasil Treasury naik, sehingga pasar menahan diri dari ekspektasi pemotongan suku bunga Fed. Nafas kebijakan yang lebih hati-hati datang seiring dengan isu harga minyak yang lebih tinggi dan ketidakpastian geopolitik. Akibatnya, sebagian pelaku pasar memangkas harapan terhadap pemotongan suku bunga pada kuartal mendatang.
Karena minyak diperdagangkan dalam dolar, kenaikan harga minyak juga mendukung dolar AS melalui biaya impor yang lebih tinggi dan permintaan mata uang yang lebih kuat. Imbal hasil obligasi naik mencerminkan peningkatan ekspektasi inflasi. Dalam jajak pendapat Reuters, 61 dari 82 ekonom memperkirakan Fed tidak akan memangkas suku bunga pada kuartal berikutnya.
Melihat ke depan, para analis terbagi tentang jalur kebijakan Fed hingga akhir 2026. Beberapa memprediksi satu pemotongan, sementara yang lain memperkirakan dua pemotongan. Mereka menilai faktor-faktor seperti inflasi, tenaga kerja, dan dinamika pasar global yang dapat mempengaruhi keputusan bank sentral.
Data klaim pengangguran awal berada di 210 ribu untuk minggu terakhir, sesuai ekspektasi tetapi sedikit lebih tinggi dari pembacaan sebelumnya 205 ribu. Rata-rata empat minggu juga turun tipis menjadi 210,5 ribu, menunjukkan dinamika tenaga kerja yang relatif stabil. Angka-angka ini menambah gambaran bahwa pasar kerja tetap kuat meski tekanan harga meningkat.
Pasar tetap menimbang jalur kebijakan Federal Reserve, dengan banyak analis menilai kebijakan akan tetap berlaku sampai data pekerjaan dan inflasi menampilkan tren yang lebih jelas. Proyeksi pasar menunjukkan Fed bisa menahan suku bunga melalui 2026, sesuai dengan beberapa ekspektasi ekonom. Pergeseran pandangan ini membuat arah dolar lebih dekat pada sisi yang menguat atau melemah tergantung pada data mendatang.
Menurut Reuters, pandangan para ekonom mengenai akhir 2026 terbagi: sebagian melihat satu pemotongan, sebagian melihat dua pemotongan. Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa jalur kebijakan masih sangat sensitif terhadap data inflasi dan tenaga kerja. Pasar akan menilai rilis data mendatang untuk mengoreksi ekspektasi kebijakan kedepannya.