Indeks DXY melemah dari level sekitar 97.7 menuju sekitar 97.5, sejalan dengan sentimen pasar yang lebih berhati-hati akibat ketidakpastian kebijakan perdagangan AS. Data ekonomi terakhir menunjukkan kejutan negatif di beberapa indikator, menambah kekhawatiran soal outlook pertumbuhan. Cetro Trading Insight menilai dinamika ini mencerminkan tekanan pada dolar sebagai hasil kombinasi risiko perdagangan dan inflasi yang masih tinggi.
Para pelaku pasar juga menyoroti data AS yang tampak mengecewakan dalam beberapa sektor penting. Seiring dengan itu, ketidakpastian politik dan langkah kebijakan baru berpotensi memperpanjang volatilitas dolar. Namun, sebagian investor menahan diri karena faktor risiko geopolitik yang berpotensi meredam pergerakan besar dalam waktu dekat.
Sejalan dengan analisis Cetro Trading Insight, jalur kebijakan moneter tampak berada di tengah kompromi antara inflasi yang masih membandel dan dorongan pertumbuhan yang melambat. Walaupun dolar melemah secara umum, risiko perlindungan terhadap aset safe-haven tetap relev jika pasar kembali bergejolak. Secara keseluruhan, struktur pasar saat ini menandakan fase transisi yang perlu dipantau dengan cermat.
Trump mengumumkan rencana menaikkan tarif global menjadi 15% sebagai alternatif jika kebijakan darurat dinilai tidak efektif, menambah kepastian yang rendah pada lanskap perdagangan. Langkah ini memperpanjang keraguan tentang bagaimana tarif akan diberlakukan di masa depan dan bagaimana biaya impor akan berubah. Analisis pasar menunjukkan bahwa sikap ini bisa memperburuk tekanan biaya bagi perusahaan dan konsumen.
Di sisi lain, Mahkamah Agung AS membatasi penggunaan kekuasaan darurat untuk memberlakukan tarif secara luas, sehingga memperumit jalan menuju perlindungan perdagangan yang lebih agresif. Para analis menilai apakah langkah resmi tersebut akan mendorong negosiasi ulang atau justru memicu reaksi pasar yang lebih volatil. Pasar menyimak dengan saksama bagaimana kebijakan baru ini akan berinteraksi dengan inflasi dan pertumbuhan.
Ketidakpastian ini memperkaya kumpulan faktor risiko yang meliputi dinamika hubungan AS dengan mitra dagang utama serta ketegangan geopolitik yang lebih luas. Di tengah kekhawatiran tersebut, investor tetap mengawasi potensi risiko seperti lonjakan biaya impor dan dampaknya terhadap pasar mata uang. Ekspektasi Fed dan jalur inflasi menjadi tolok ukur utama dalam menilai arah dolar ke depan.
Analisis menunjukkan bahwa meskipun data terbaru menekan dolar, peluang pergerakan besar tergantung pada bagaimana pasar menilai risiko ekonominya ke depan. Arah perdagangan global kemungkinan didorong oleh perubahan kebijakan, bukan hanya oleh satu indikator. Trader perlu menguatkan manajemen risiko dan memperhatikan perkembangan data inflasi serta komentar kebijakan bank sentral.
Volatilitas tetap tinggi karena kombinasi risiko perdagangan, dinamika inflasi, dan ketegangan geopolitik. Dalam konteks ini, beberapa skenario mungkin muncul, mulai dari perpanjangan fase pelemahan dolar hingga rebound jika ketegangan mereda. Rencana alokasi aset dan penggunaan stop loss menjadi bagian penting strategi untuk menjaga risk-reward yang layak.
Penilaian saat ini menyarankan fokus pada analisis fundamental untuk abstraksi volatilitas jangka pendek, sambil memantau indikator risiko seperti data inflasi, keputusan Fed, serta perkembangan kebijakan perdagangan. Karena informasi dalam artikel ini terbatas untuk sebuah laporan, sinyal trading tidak dapat diambil secara tegas dan investor disarankan menunda eksekusi hingga ada konfirmasi lebih lanjut dari data resmi.