
DXY melemah karena sentimen risiko berangsur pulih setelah Israel dan Lebanon sepakat memperpanjang gencatan senjata pada hari Rabu. Indeks dolar, yang mengukur nilai USD terhadap enam mata uang utama, diperdagangkan di sekitar level 99,50 pada jam perdagangan Asia hari Kamis. Ketidakpastian geopolitik masih ada meski optimisme pasar relatif terbatas.
Kebijakan internasional tetap menjadi sorotan karena pernyataan Presiden Trump yang mengancam membatalkan gencatan jika Teheran menewaskan tentara AS. Ketegangan geopolitik menambah volatilitas di pasar valuta asing meski beberapa faktor risiko mereda. Sisi fundamentals tetap menjadi fokus, karena data ekonomi domestik bisa mengubah arah dolar.
Para pelaku pasar menilai arah dolar sensitif terhadap data tenaga kerja AS dan dinamika harga energi yang mendasari inflasi. Data May yang lebih kuat dapat meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Fed dan mengubah arah dolar. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.
Nilai DXY tetap terbatas setelah berita pembaruan gencatan senjata menenangkan sebagian risk appetite. Hezbollah masih terkait dengan potensi eskalasi jika kekerasan belum berhenti sepenuhnya. Proses negosiasi yang dipimpin AS di Washington menghasilkan pernyataan mengenai pembentukan zona keamanan sebagai langkah preventif.
Pernyataan Trump yang menyiratkan ia akan mengevaluasi akhir gencatan jika Iran menewaskan tentara AS menambah risiko kebijakan luar negeri. Serangan udara yang menurun tidak berarti tekanan pada dolar hilang sepenuhnya, karena risiko geopolitik tetap ada dan bisa memicu pergeseran aliran modal. Analisis ini berasal dari Cetro Trading Insight.
Data pekerjaan Mei yang menunjukkan kekuatan pasar tenaga kerja AS meningkatkan optimisme bahwa the Fed akan menaikkan suku bunga lebih lama. Dalam konteks ini, pasar juga memantau ADP private payrolls dan angka JOLTS sebagai penunjang narasi tersebut. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.
Menurut CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga Desember sekitar 42%, menandai adanya peluang kedua arah pada dolar. Ketergantungan harga energi yang tinggi akibat konflik di Iran turut menambah tekanan inflasi dan mempengaruhi ekspektasi kebijakan moneter. Pasar tetap menimbang risiko geopolitik sambil menilai data ekonomi sebagai sinyal utama.
Kondisi tenaga kerja yang kuat mendukung argumen bahwa kebijakan moneter AS bisa tetap ketat lebih lama, meski volatilitas pasar tetap ada. Bagi trader, dinamika ini menuntut kehati-hatian dalam mengelola risiko dan menahan posisi tanpa arahan eksplisit dari data rilis. Laporan ini disusun untuk pembaca oleh Cetro Trading Insight.
Untuk trader forex, fokus utama tetap pada data ekonomi dan kebijakan moneter yang menggerakkan dolar. Sinyal trading harus berasal dari pola rilis ekonomi dan interpretasi kebijakan tanpa menyimpang dari tujuan risiko. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.