
Nilai DXY, indeks yang mengukur dolar terhadap enam mata uang utama, diperdagangkan sekitar 97.85 pada sesi Asia Rabu. Pergerakan ini mencerminkan fokus pasar terhadap risiko perdagangan global dan dinamika kebijakan moneter AS.
Kabar bahwa pemerintahan Trump mendorong tarif baru dan ancaman menaikkan tarif menjadi 15% meningkatkan ketidakpastian perdagangan. Kondisi ini berpotensi menekan dolar terhadap rival utamanya jika negosiasi perdagangan memburuk.
Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk pembaca setia. Dolar tetap volatil seiring investor menimbang langkah kebijakan dan risiko geopolitik yang membayangi pasar.
Beberapa pejabat Federal Reserve menilai belum ada kebutuhan mendesak untuk mengubah kebijakan moneter saat ini. Menurut laporan, Susan Collins menyatakan layak menahan kisaran suku bunga saat ini untuk sementara waktu.
Retorika hawkish dari pejabat Fed dapat menjaga pasar pada ekspektasi penundaan pemotongan suku bunga, sehingga berpotensi mengangkat DXY jika risiko ekonomi memburuk.
Investor juga menanti pidato Jeff Schmid dan Alberto Musalem serta rilis laporan Producer Price Index PPI Januari untuk petunjuk arah kebijakan dan dinamika inflasi.
Para ekonom memperkirakan PPI Januari melambat dibandingkan bulan sebelumnya, sesuai konsensus pasar.
Namun jika data menunjukkan tekanan inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi, dolar berpotensi menguat dalam jangka pendek karena pasar menyesuaikan ekspektasi kebijakan.
Secara garis besar, dinamika tarif global dan arah kebijakan Fed tetap membentuk arah dolar menuju sesi berikutnya, dengan risiko yang seimbang antara peluang kenaikan dan penurunan.