BNP Paribas memperingatkan bahwa disinflasi yang lebih cepat dari ekspektasi memungkinkan ECB untuk memangkas suku bunga utama. Kebijakan ini telah berkontribusi pada rebound pertumbuhan di zona euro pada 2025. Namun, risiko gejolak geopolitik di Iran berpotensi meredam progres tersebut dan menambah ketidakpastian.
Mengacu pada skenario moderat, bank tersebut memperkirakan ECB tetap berhati-hati dan tidak buru-buru menaikkan suku bunga. Guncangan inflasi yang lebih rendah dapat menahan kekuatan kebijakan, meski sektor energi tetap menjadi sumber volatilitas. Ketidakpastian ini membuat rambu kebijakan menjadi rangkaian evaluasi yang berkelanjutan.
Seiring inflasi di zona euro diperkirakan mendekati 4% pada akhir tahun, maka ada peluang ECB perlu menaikkan suku bunga untuk mencegah tren inflasi yang lebih bertahan. BNP Paribas menekankan bahwa pergeseran kebijakan akan tergantung pada bagaimana konflik Iran berkembang dalam beberapa minggu ke depan. Secara umum, pesan utama adalah kehati-hatian dengan batasan perubahan kebijakan yang bisa muncul jika risiko inflasi kembali menguat.
BNP Paribas menguraikan tiga jalur yang mungkin terjadi akibat konflik Iran. Jalur pertama adalah de‑eskalasi, sehingga intensitas konflik menurun dan harga minyak serta gas diperkirakan kembali ke level sebelum konflik dalam beberapa minggu. Jalur kedua menandakan periode ketidakpastian politik yang berkepanjangan, yang menyebabkan kenaikan harga energi lebih moderat namun lebih tahan lama. Ketiga, eskalasi yang disertai ketegangan berkelanjutan pada pasokan minyak dan gas akan menaikkan volatilitas pasar secara signifikan.
Dalam skenario pertama dan kedua, dampak terhadap inflasi dianggap sementara pada kasus pertama dan lebih bertahan pada kasus kedua, meskipun sifatnya moderat. Data yang ada menunjukkan bahwa dampak tersebut tidak akan menggembungkan laju inflasi secara ekstrim selama beberapa bulan. Nilai inflasi di zona euro bisa bergerak mendatar sekitar level tersebut sambil memperhatikan arah kebijakan ECB.
Klausul kebijakan ECB tetap waspada, namun tidak otomatis menuntun pada kenaikan suku bunga. BNP Paribas menekankan bahwa jika inflasi tetap mendekati target 4%, ECB mungkin perlu menimbang pengetatan kebijakan untuk mencegah inflasi yang lebih persisten. Secara keseluruhan, risiko konflik Iran memperjelas bahwa kebijakan moneter harus adaptif terhadap perkembangan eksternal.
Kondisi geopolitik menambah risiko bagi prospek pertumbuhan, sehingga kebijakan ECB cenderung berhati-hati dan didorong oleh data inflasi. Bank sentral kemungkinan menjaga jeda atau kenaikan bertahap tergantung bagaimana inflasi bergerak mendekati 4%. Investor perlu memantau dinamika harga energi dan bagaimana hal itu menambah tekanan pada biaya hidup dan produksi.
Untuk pasar mata uang, dinamika ini bisa mendukung fluktuasi EUR terhadap pasangan utama seperti USD. Ketidakpastian geopolitik meningkatkan permintaan terhadap aset lindung nilai, meski reli harga energi bisa menambah volatilitas di pasar mata uang. Secara teknis, trader disarankan menggabungkan analisa fundamental dengan indikator teknikal untuk menilai arah jangka menengah.
Artikel ini disusun dengan bantuan teknologi AI dan direview editor untuk memastikan keakuratan. Media kita, Cetro Trading Insight, menekankan pentingnya konteks global dalam membaca kebijakan bank sentral. Untuk pembaca, tetap fokus pada perkembangan inflasi inti, harga energi, dan komentar pejabat ECB sebagai sinyal utama dalam beberapa bulan ke depan.