Harga emas melonjak hingga sekitar USD 4.855 per ons setelah pengumuman gencatan senjata 14 hari di Timur Tengah. Laporan ini dirujuk melalui analisis Carsten Fritsch dari Commerzbank dan dipertegas dalam ulasan di Cetro Trading Insight. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa emas tetap responsif terhadap kejutan geopolitik meskipun lazim dipakai sebagai pelindung nilai pada situasi tertentu.
Kenaikan tersebut tidak sepenuhnya mengikuti pola tradisional emas sebagai aset lindung nilai. Penurunan harga minyak belakangan ini menurunkan risiko inflasi dan menimbulkan ekspektasi bahwa bank sentral bisa menahan atau bahkan menurunkan tekanan kenaikan suku bunga. Akibatnya, imbal hasil obligasi turun, yang secara historis meningkatkan daya tarik logam mulia yang tidak membayar bunga.
Dalam jangka pendek, arah pergerakan emas sangat bergantung pada apakah perdamaian berkelanjutan akan tercapai dalam dua minggu ke depan. Jika negosiasi gagal atau eskalasi terjadi lagi, volatilitas bisa meningkat. Cetro Trading Insight menekankan pentingnya memantau rilis data ekonomi utama dan perkembangan diplomatik sebagai penentu arah berikutnya.
Penurunan imbal hasil obligasi akibat menurunnya risiko inflasi meningkatkan daya tarik emas sebagai aset non-bunga. Ketika biaya pinjaman lebih rendah, investor cenderung mencari alternatif yang menjaga nilai tanpa memberikan pendapatan tetap. Kondisi ini bisa mendorong permintaan emas lebih lanjut jika tren suku bunga tetap rendah.
Di tingkat kebijakan, pasar menilai kemungkinan Eropa menjaga laju kenaikan suku bunga sementara AS memberi ruang untuk pemangkasan jika inflasi terkendali. Perubahan kebijakan dipengaruhi oleh dinamika harga minyak, tekanan inflasi, dan daya beli konsumen. Data cadangan emas juga relevan, dengan China melaporkan peningkatan cadangan emas pada Maret, menambah dukungan pada peran emas sebagai instrumen cadangan nasional.
Di sisi lain, perbandingan antar negara tetap penting. Cadangan emas Bank sentral Turki menurun signifikan pada bulan terakhir Maret, sedangkan perubahan di China bersifat lebih moderat. Secara keseluruhan, emas tetap terkait dengan arah kebijakan moneter global dan volatilitas geopolitik, sehingga pelaku pasar perlu menjaga kesiapan terhadap potensi guncangan harga di masa depan.