Emas menguat mendekati level 4.600 dolar AS pada pembukaan sesi Asia, mencerminkan momentum pembeli yang menyikapi potensi pelonggaran kebijakan moneter di AS. Pasar menilai bahwa langkah-langkah pelonggaran masih memungkinkan di sisa tahun ini meskipun dinamika politik domestik turut membentuk risiko kebijakan.
Data inflasi terkini menunjukkan tekanan harga yang masih bisa mendorong pelonggaran lebih lanjut, sehingga emas masih dianggap sebagai aset safe-haven yang menarik. Investor menunggu laporan Penjualan Ritel dan Indeks Harga Produsen untuk memberi petunjuk arah kebijakan Federal Reserve yang akan datang.
Ketidakpastian kebijakan di AS dan gejolak geopolitik global menambah daya tarik emas sebagai lindung nilai. Di tengah opini pasar mengenai independensi bank sentral, logam kuning biasanya mendapat dukungan saat volatilitas meningkat dan risiko turun naik di pasar keuangan melonjak.
Rilis data Penjualan Ritel dan Indeks Harga Produsen AS menjadi fokus utama hari ini karena keduanya dapat memberikan petunjuk jelas mengenai jalur kebijakan suku bunga. Tekanan dari data yang kuat bisa meredam ekspektasi pemotongan, sementara data yang lebih lemah dapat memperkuat peluang penurunan suku bunga dan mendukung emas.
Indikator inflasi seperti IHK yang masih menunjukkan dinamika tertentu bisa memengaruhi arah dolar AS dan harga komoditas berdenominasi USD. Jika inflasi menunjukkan kelebihan di atas ekspektasi, dolar cenderung menguat dan menekan emas dalam jangka pendek; sebaliknya, sinyal pelonggaran bisa membebaskan emas dari tekanan tersebut.
Secara keseluruhan, emas tetap rentan terhadap tilt kebijakan moneter AS. Peluang penurunan suku bunga meningkatkan daya tarik logam mulia karena mengurangi biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil, yang pada akhirnya berpotensi mengarahkan harga ke level lebih tinggi.