Dalam edisi analitik ini, emas berhasil rebound dari level terendah harian sekitar 4.655 dolar setelah data tenaga kerja AS menunjukkan kejutan lemah. Menurut Cetro Trading Insight, pergerakan ini mencerminkan perubahan sentimen pasar terhadap peluang pelonggaran kebijakan The Fed meskipun ada dinamika imbal hasil obligasi pemerintah yang tetap beragam. Pasar telah menunjukkan minat beli yang meningkat ketika saham berhadapan dengan ketidakpastian, dan logam kuning ini tetap menjadi aset yang dipantau secara intensif oleh investor institusional maupun ritel.
Harga emas melonjak lebih dari 3 persen pada hari Jumat dan saat ini berada di sekitar 4.963 dolar per ounce. Lonjakan ini terjadi karena minat beli kembali muncul setelah penurunan sebelumnya, meskipun imbal hasil Treasury bergerak naik. Pergerakan ini menandakan adanya keseimbangan antara ekspektasi pelonggaran kebijakan dan kekuatan imbal hasil yang mencoba menarik dana keluar dari logam mulia.
Fokus pasar beralih ke rilis CPI, data penjualan ritel, dan pidato pejabat Federal Reserve yang akan menentukan arah kebijakan jangka pendek. Sesi Jumat dikenal volatil, karena logam yang tidak menghasilkan imbal hasil ini fluktuatif di bawah tekanan data ekonomi. Secara teknikal, pergerakan di atas level 4.800 dolar menambah konfirmasi bahwa tren bullish sedang kuat meski volatilitas tetap tinggi.
Indeks dolar AS DXY tampak melemah sekitar 0,35 persen pada saat laporan ini dirilis, membuka peluang bagi emas untuk mempertahankan reli. Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun naik mendekati 4,216 persen, menambah dinamika antara aset berisiko dan logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil. Kondisi ini menekankan bahwa faktor moneter saat ini menjadi penentu utama arah harga dalam beberapa hari mendatang.
Pembahasan pejabat bank sentral turut membentuk sentimen pasar. Presiden Fed San Francisco Mary Daly menekankan pentingnya melihat kedua sisi mandat, dengan potensi pelonggaran suku bunga di masa depan jika tenaga kerja dan inflasi tetap terkendali. Lonjakan spekulasi atas kemungkinan pelonggaran pada 2026 juga didorong oleh pelemahan beberapa indikator tenaga kerja dan klaim pengangguran yang lebih tinggi dari perkiraan.
Investor menimbang data klaim pengangguran, pelonggaran di akhir tahun, dan ekspektasi inflasi jangka pendek. Pasar juga membaca pandangan bahwa sebagian besar pelonggaran bisa terakumulasi hingga akhir tahun, meski target inflasi 2% masih menjadi acuan utama bank sentral. Secara umum, data dan komentar kebijakan membentuk volatilitas di pasar emas serta ekspektasi arah kebijakan ke depan.
Secara teknis, tren harga emas tetap bullish setelah mencoba menembus level Simple Moving Average 20-hari di sekitar 4.861 dolar. Momentum positif mulai terlihat lagi, terlebih RSI telah pulih ke wilayah yang lebih bullish, memberikan dukungan pada narasi bahwa emas bisa terus menguat menuju level 5.000 dolar jika sentimen fundamental tetap mendukung pelonggaran kebijakan dan pembalikan bagi dolar AS berlangsung berkelanjutan.
Target teknis utama saat ini adalah sekitar 5.000 dolar, dengan catatan bahwa momentum bisa bertambah jika data fundamental tetap mendukung ekspektasi pelonggaran kebijakan. Namun, risiko konsolidasi tetap ada jika harga turun di bawah 4.900 dolar, menciptakan rentang antara SMA 20-hari di 4.861 dan 4.900 menjelang minggu depan. Investor disarankan memantau rilis CPI, retails sales, dan pidato pejabat Fed untuk konfirmasi arah berikutnya.
Keseluruhan, prospek emas terlihat positif dalam jangka pendek hingga menengah, dengan fokus pada sinergi antara data ekonomi Amerika Serikat dan pernyataan kebijakan dari bank sentral. Strategi trading yang disarankan menekankan risk-reward minimal 1:1,5 serta pemantauan ketat terhadap level support dan resistance kunci untuk menghindari pembalikan tajam akibat berita makro mendadak.